√ 12 Macam Organisasi Bentukan Jepang Di Indonesia [LENGKAP]

Posted on

Organisasi Bentukan Jepang Di Indonesia – Pada awalnya militer Jepang mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari sikap tokoh-tokoh nasionalisme seperti Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta yang bersedia melakukan kerja sama dengan pihak Jepang, padahal sebelumnya pada masa pemerintahan kolonial Belanda mereka bersikap nonkooperatif.

Baca Juga : Latar Belakang Perang Dunia 1

Untuk mendekati rakyat Indonesia, Jepang membentuk beberapa organisasi di Indonesia kalangan pribumi dan pemuda Indonesia yang berbadan sehat dan kuat diberikan pendidikan militer. Tapi sebenarnya, tujuan jepang mem adalah untuk kepentingan Jepang semata untuk menghadapi perang dunia II dan memenangkan perang Asia-Pasifik melawan Sekutu.

Organisasi Bentukan Jepang Di Indonesia

Berikut beberapa macam jenis organisasi bentukan Jepang di Indonesia, diantaranya yaitu:

Pembela Tanah Air (PETA)

Tentara Pembela Tanah Air atau PETA adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang. PETA dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu Resentai.

Tentara PETA berperan besar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam PETA diantaranya mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA sudajh menentukan perkembangan dan evolusi militer Indonesia, diantaranya setelah menjadi bagian penting dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya TNI. Karena hal tersebut PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Gakukotai (Laskar Pelajar)

Menjelang Jepang terpuruk kalah tanpa syarat dalam Perang Dunia II, untuk memperkuat posisinya di Indonesia, Jepang melatih rakyat dengan latihan kemiliteran. Tidak ketinggalan pemuda, pelajar dan mahasiswa. Pasukan pelajar dan mahasiswa yang dibentuk oleh Jepang disebut dengan “GAKUKOTAI”

Heiho (Barisan Cadangan Prajurit)

Heiho atau barisan prajurit cadangan adalah pasukan yang terdiri dari bangsa Indonesia yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang di Indonesia pada masa Perang Dunia II. Pasukan Heiho dibentuk berdasarkan instruksi Bagian Angkatan Darat Markas Besar Umum Kekaisaran Jepang pada tanggal 2 September 1942 dan mulai merekrut anggota pada 22 April 1943.

Pada awalnya, Heihe ditujukan untuk membantu pekerjaan kasar militer seperti membangun kubu dan parit pertahanan, menjaga tahanan dan lain sebagainnya. Dalam perkembangannya, seiring semakin sengitnya pertempuran, Heiho dipersenjatai dan dilatih untuk diterjunkan di medan perang, bahkan hingga ke Morotai dan Burma.

Baca Juga : Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Menjelang akhir pendudukan Jepang di Indonesia, jumlah pasukan Heiho diperkirakan mencapai 42.000 orang dengan lebih dari setengahnya terkonsentrasi di pulau Jawa. Heiho dibubarkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) setelah Jepang menyerah pada Belanda dan sebagian anggotanya dialihkan menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Seinendan (Barisan Pemuda)

Pembentukan Seinenda atau barisan pemuda secara resmi diumumkan pada tanggal 24 April 1943. Anggota Seinendan direkrut dari berbagai tempat dari desa hingga sekolah-sekolah dengan di bekali keahlian militer dan pada bulan Oktober 1944 dibentuk Josyi Seinendan (Seinendan Putri).

Demi keberhasilan organisasi ini, Pemerintah Jepang juga membentuk Seinen Kunrensyo (Lembaga Latihan Pemuda), yaitu pencetakan kader-kader pemimpin untuk Seinendan, mereka dilatih sesuai dengan kemiliteran tapi dalam perang mereka hanya pasukan garis belakang atau cadangan.

Fujinkai (Barisan Wanita)

Pengerahan tenaga untuk berperang tidak hanya berlaku bagi kaum laki-laki, tapi berlaku juga untuk kaum wanita Indonesia. Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggota Fujinkai terdiri atas para wanita Indonesia yang berusia 15 tahun keatas. Tujuan pembentukan Fujinkai adalah untuk membantu Jepang berperang melawan Sekutu.

Putera (Pusat Tenaga Rakyat)

Pusat Tenaga Rakyat atau Putera adalah organisasi yang dibentuk pemerintah Jepang di Indonesia pada 16 April 1943 dan dipimpin oleh Empat Serangkai, yaitu Ir Soekarno, Moh Hatta, Ki Hajar Dewantara dan Kyai Haji Mas Mansyur. Tujuan Putera adalah untuk membujuk kaum Nasionalis dan intelektual untuk mengabdikan pikiran dan tenaganya untuk kepentingan perang melawan Sekutu dan diharapkan dengan adanya pemimpin orang Indonesia, maka rakyat akan mendukung penuh kegiatan ini. Dalam waktu singkat, Putera bisa berkembang hingga ke daerah dengan anggotanya adalah kumpulan organisasi profesi seperti Persatuan Guru Indonesia, perkumpulan pegawai pos, radio dan telegraf, perkumpulan Istri Indonesia, Barisan Banteng dan Badan Perantara Pelajar Indonesia serta Ikatan Sport Indonesia.

Propaganda Tiga A yang disebarluaskan Jepang untuk mencari dukungan rakyat Indonesia ternyata hasilnya tidak memuaskan, karena rakyat justru merasakan tindakan tentara Jepang yang kejam seperti dalam kerja paksa romusha.

Baca Juga : Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Karena itu, pemerintah Jepang berupaya mencari dukungan dari para pimpinan rakyat Indonesia dengan cara membebaskan para tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir juga merangkul mereka dalam bentuk kerjasama. Para pemimpin bangsa Indonesia merasa bahwa satu-satunya cara menghadapi kekejaman militer Jepang adalah dengan bersikap kooperatif. Hal tersebut hanya untuk tetap berusaha mempertahankan kemerdekaan secara tidak langsung. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka mereka sepakat bekerjasama dengan pemerintah militer Jepang dengan pertimbangan lebih menguntungkan daripada melawan. Hal tersebut didukung oleh propaganda Jepang untuk tidak menghalangi kemerdekan Indonesia. Setelah terjadi kesepakatan, maka dibentuk organisasi baru bernama Putera (Pusat Tenaga Rakyat).

Putera sebagai organisasi resmi pemerintah yang disebarluaskan melalui surat kabar dan radio sehingga menjangkau ke desa, tapi tidak mendapatkan bantuan dana operasional. Walaupun kegiatannya terbatas, para pemimpin Putera memanfaatkan media massa yang disediakan untuk mengikuti dan mengamati situasi dunia luar juga berkomunikasi dengan rakyat.

Jepang menganggap Putera tidak menguntungkan maka Putera hanya bertahan selama setahun lalu dibubarkan dan diganti dengan Jawa Hokokai.

Jawa Hokokai

Jawa Hokokai atau Himpunan Kebaktian Rakjat Djawa adalah perkumpulan yang dibentuk oleh Jepang pada 1 Maret 1944 sebagai pengganti Putera. Pemimpin tertinggi Jawa Hokokai adalah Gunseikan dan Soekarno menjadi penasihat utamanya.

Jawa Hokokai dibentuk sebagai organisasi pusat yang merupakan kumpulan dari Hokokai atau jenis pekerjaan (profesi), seperti Izi Hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Pendidik), Fujinkai (Organisasi wanita) dan Keimin Bunko Syidosyo (Pusat budaya). Perkumpulan Jawa Hokokai adalah pelaksana pengerahan atau mobilisasi (penggerakan) barang yang berfungsi untuk kepentingan perang.

Keibodan (Barisan Pembantu Polisi)

Keibodan atau Barisan Pembantu Polisi dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Tujuan pembentukan Keibodan adalah untuk membantu polisi Jepang pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Keibodan di Sumatra dikenal dengan nama Bogodan, sedangkan di Kalimantan dikenal dengan nama Sameo Konen Hokokudan. Di kalangan penduduk Cina dibentuk semacam Keibodan dengan nama Kayo Keibotai. Pembina Keibodan disebut Keimumbu.

Gerakan Tiga A

Tiga A adalah propaganda Kekaisaran Jepang pada masa Perang Dunia II yaitu:

  • Nippon Pemimpin Asia
  • Nippon Pelindung Asia
  • Nippon Cahaya Asia

Gerakan Tiga A didirikan pada tanggal 29 Maret 1942. Pelopor gerakan Tiga A ialah Shimizu Hitoshi.

Baca Juga : Sejarah Perang Aceh

Gerakan Tiga A Indonesia dipimpin oleh Mr. Syamsuddin yang merupakan bekas tokoh Parindra. Tujuan gerakan Tiga A adalah mendapatkan simpati penduduk dan tokoh masyarakat Indonesia. Akan tetapi, gerakan ini kurang berhasil sehingga Jepang membentuk organisasi yang lebih menarik.

Kempetai (Barisan Polisi Rahasia)

Kesatuan Kempetai adalah satuan polisi militer Jepang yang ditempatkan diseluruh wilayah Jepang termasuk daerah jajahan. Kempetai atau barisan polisi rahasia bisa disandingkan dengan unit Gestapo milik Nazi Jerman, memiliki kesamaan dalam tugas sebagai polisi rahasia militer. Kempetai sangat terkenal karena kedisiplinan dan kekejamannya.

Masyumi

Mayoritas penduduk Indonesia beragama islam, karena hal tersebut Jepang merasa harus bisa menarik hati golongan ini. Sehingga, pada tahun 1943 Jepang membubarkan Majelis Islam A’la Indonesia dan menggantikannya dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Masyumi dipimpin oleh K.H. Hasyim Ashari dan K.H. Mas Mansyur.

Barisan Pelopor (Syuisyintai)

Syuisyintai atau Barisan Pelopor adalah salah satu bagian Jawa Hokokai, Syuisyintai dipimpin oleh Ir. Soekarno dengan pemimpin Harian atau Kepala Sekretariatnya adalah Sudiro. Beberapa tokoh nasionalis lainnya sebagai anggota pengurus Syuisyintai diantaranya Chaerul Saleh, Asmara Hadi, Sukardjo Wiryopranoto, Oto Iskandardinata dan lain sebagainya. Organisasi Syuisyintai dimanfaatkan oleh para nasionalis sebagai penyalur aspirasi nasionalisme dan memperkuat pertahanan pemuda melalui pidato-pidatonya.

Baca Juga : Sejarah G30S/PKI

Demikian artikel pembahasan tentang organisasi bentukan Jepang di Indonesia, semoga bermanfaat