√ Sarekat Islam : Sejarah, Latar Belakang, Tokoh dan Kemuduran Organisasi Sarekat Islam (SI)

Posted on

Sarekat Islam (SI) – Ada banyak organisasi pergerakan nasional, salah satunya adalah Sarekat Islam. Syarikat Islam (SI) atau Sarekat Islam, dahulu bernama Sarekat Dagang Islam (disingkat SDI) didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi. SDI merupakan organisasi yang pertama kali lahir di Indonesia. Awalnya, organisasi yang dibentuk oleh Haji Samanhudi dan kawan-kawan merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang politik Belanda memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai komplar ekonomi rakyat pada masa itu.

Baca Juga : Pemberontakan Andi Aziz

Sejarah Singkat Sarekat Islam

Awalnya, organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) adalah perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi Sarekat Dagang Islam ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tanggal 16 Oktober 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar bisa bersaing dengan para pedagang besar Tionghoa.

Pada saat itu, para pedagang keturunan Tionghoa sudah lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi daripada penduduk Hindia Belanda lainnya. Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran di antara kaum pribumi yang biasa disebut sebagai Inlanders.

Sarekat Dagang Islam merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah pimpinan H. Samanhudi, perkumpulan dagang ini berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan yang berpengaruh. Pada tahun 1909, R.M. Tirtoadisurjo mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi seperti itu di Buitenzorg. Selain itu, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa pada tahun 1912. Tjokroaminoto masuk Sarekat Islam (SI) bersama dengan Hasan Ali Surati,yaitu seorang keturunan India yang nantinya memegang keuangan surat kabar SI, Oetusan Hindia. Pada tahun 1912, Tjokroaminoto yang dipilih menjadi pemimpin dan mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI). Tujuan perubahan nama tersebut adalah agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang lain seperti politik.

Sarekat Islam tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Tujuan Sarekat Islam (SI) adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan Sarekat Islam (SI) terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Pada saat Sarekat Islam (SI) mengajukan diri sebagai Badan Hukum, awalnya Gubernur Jendral Idenburg menolak. Badan Hukum hanya diberikan pada Sarekat Islam (SI) lokal. Meski dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, namun dalam kegiatannya Sarekat Islam (SI) menaruh perhatian besar terhadap unsur politik dan menentang ketidakadilan juga penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya Sarekat Islam (SI) memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.

Apabila dilihat dari anggaran dasarnya, Tujuan Sarekat Islam (SI), diantaranya yaitu:

  • Mengembangkan jiwa dagang.
  • Membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha.
  • Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat.
  • Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam.
  • Hidup menurut perintah agama.

Baca Juga : Sejarah G30S/PKI

Seiring perubahan waktu, akhirnya pada bulan Maret tahun 1916 SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum. Setelah pemerintah mengizinlan berdirinya partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad pada tahun 1917, yaitu HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis yang juga tergabung dalam CSI menjadi anggota volksraad atas namanya sendiri berdasarkan ketokohan dan bukan mewakili Central SI sebagaimana HOS Tjokroaminoto yang menjadi tokoh terdepan dalam Central Sarekat Islam. Namun Tjokroaminoto tidak bertahan lama di lembaga yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda tersebut dan kemudian ia keluar dari Volksraad (semacam Dewan Rakyat), karena volksraad dipandang sebagai “Boneka Belanda” yang hanya mementingkan urusan penjajahan di Hindia dan tetap mengabaikan hak-hak kaum pribumi. Pada saat itu, HOS Tjokroaminoto telah menyuarakan agar bangsa Hindia (Indonesia) diberi hak untuk mengatur urusan dirinya sendiri, namun hal tersebut ditolak oleh pihak Belanda.

Pada Januari 1913, Sarekat Islam mengadakan kongres pertama di Surabaya. Dalam kongres pertama ini, Tjokroaminoto menyatakan bahwa SI bukan merupakan organisasi politik dan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan antarbangsa Indonesia, membantu anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi serta mengembangkan kehidupan relijius dalam masyarakat Indonesia.

Selanjutnya, kongres kedua diadakan di Surakarta yang menegaskan bahwa SI hanya terbuka bagi rakyat biasa. Para pegawai pemerintah tidak boleh menjadi anggota. Pada tanggal 17-24 Juni 1916 diadakan kongres SI yang ketiga di Bandung. Dalam kongres tersebut, SI sudah mulai melontarkan pernyataan politiknya. SI bercita-cita menyatukan seluruh penduduk Indonesia sebagai suatu bangsa yang berdaulat (merdeka). Pada tahun 1917, SI mengadakan kongres yang keempat di Jakarta. Dalam kongres keempat ini, SI menegaskan ingin memperoleh pemerintahan sendiri (kemerdekaan) dan mendesak pemerintah agar membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). Sarekat Islam (SI) mencalonkan H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis sebagai wakilnya di Volksraad.

Latar Belakang Sarekat Islam

Pada masa kolonial, penguasaan sumber daya di Indonesia dikuasai oleh pemilik modal asing yang merupakan praktik dari sistem imperialisme modern Barat. Nusantara dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi industri pemerintah kolonial. Salah satu saudagar pribumi yaitu Haji Samanhoedi (1868-1956), segera memberikan respon cepat atas kebijakan ekonomi pemerintah kolonial dengan mendirikan Organisasi Syarikat Dagang Islam (SDI) pada tanggal 16 Oktober 1905 di Surakarta. Informasi berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) segera disebarluaskan melalui buletin Taman Pewarta (1902-1915).

Belanda menilai berdirinya SDI sebagai ancaman besar bagi keberadaan dan perkembangan ekonomi Belanda di Indonesia. Terlebih, SDI berusaha melakukan kerjasama dengan organisasi niaga Cina bernama Kong Sing. Untuk itu, pemerintah Belanda merasa harus mendirikan organisasi tandingan.

Pendirian SDI merupakan lambang awal suatu keberhasilan gerakan pembaharuan sistem organisasi Islam. Hal tersebut karena suatu pembaharuan membutuhkan ketangguhan organisasi dan kontuinitas perolehan dana. Pada saat kongres pertama Sarekat Dagang Islam digelar di Solo tahun 1906, nama Sarekat Dagang Islam diganti menjadi Sarekat Islam (SI),

Kebijakan Haji Samanhodi dalam SI sangat strategis, gerakan ini berbasis operasi kegiatan di pasar. Di pasar, SI bisa mendapatkan dana untuk kelanjutan gerakannya. Dengan membawa Islam pada nama organisasi, Syarekat Dagang Islam bisa mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Baca Juga : Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Di tengah kondisi kebangkitan ulama melalui aktivitas pasar, pemerintah kolonial Belanda berupaya mendirikan organisasi tandingan. Pada tahun 1909 M, pemerintah kolonial mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Bogor. Sarekat Dagang Islamiyah dipimpin oleh R.M.T Adhisoerjo (1830-1919 M). Selain itu, Adhisoerjo juga merupakan pimpinan redaksi Medan Prijaji dan anggota Boedi Oetomo Afdeeling II di Bandung.

Berbeda dengan Sarekat Dagang Islam (SI) Haji Samanhoedi, SDI Adhisoerjo sangat dekat dengan pemerintah kolonial. Hal tersebut bisa dilihat dari ketegantungan mereka terhadap dana dan perlindungan dari pemerintah kolonial. Walaupun, SDI dan media Adhisoerjo tetap tidak bisa menyaingi SDI Haji Samanhoedi. Kemudian, Adhisoerjo memilih untuk melanjukan usahanya dan menyerahkan kepemimpinannya pada Haji Samanhoedi dan membubarkan Syarekat Dagang Islamiyah pada 1911 M.

Pada periode revolusi Cina 1911, pemerintah Belanda memandang eksistensi SI dan rekannya, Kong Sing, dinilai semakin membahayakan kepentingan mereka. Dikhawatirkan akan terjadi pengulangan sejarah, yaitu terbentuknya kerjasama Cina Batavia dengan Soenan Mas. Karena hal itu, Pemerintah Belanda berusaha mengadu domba SDI dan saudagar Cina.

Pertama, mereka menumbuhkan perpecahan dengan cara mempersulit produsen batik pribumi mendapatkan bahan batik. Sejak tahun 1892 M, hak monopoli sandang diberikan pemerintah kolonial ke saudagar Cina. Dengan dipersulitnya bahan-bahan tersebut, pemerintah Belanda menyebarkan berita bahwa kelangkaan bahan batik akibat ulah dari pedagang Cina. Namun usaha tersebut sia-sia, karena hubungan pribumi dan Cina justru semakin erat, menyusul kesepakatan kerjasama untuk saling membantu antar SI dan Kong Sing jika terjadi penindasan dari pemerintah kolonial.

Karena gagal, selanjutnya usaha yang dilakukan pemerintah kolonial adalah menciptakan gerakan huru-hara anti Cina dengan menggunakan Laskar Mangkunegara untuk memprovokai rakyat agar merusak toko-toko Cina. Provokasi tersebut menyebabkan kerusuhan di Surakarta dan kota lainnya. Walaupun begitu, usaha tersebut kembali gagal, setelah rakyat mengetahui bahwa pelaku perusak toko-toko adalah Laskar Mangkunegara kemudian aktivitas pasar kembali seperti sebelumnya.

Pada Maret 1912, pemerintah kolonial melihat pergerakan Sarekat Islam di Surabaya. Pada Mei 1912, tiga orang propagandis Sarekat Islam datang ke rumah Tjokroaminoto untuk berdiskusi. Dari hasil dikusi mereka, Tjokroaminoto bersedia menjadi pimpinan Sarekat Islam. Peristiwa ini mendapat perhatian dari pengurus Sarekat Islam di Surakarta. Kemudian, Tjokroaminoto diundang agar bersedia hadir di Surakarta. Pada saat kehadirannya di Surakarta pada 13 Mei 1912, Tjokroaminoto mendapat amanah kehormatan, memegang kepemimpinan Sarekat Islam yang sebelumnya dijabat oleh Haji Samanhoedi.

Pergantian kepemimpinan Sarekat Islam dimanfaatkan Belanda untuk kembali mengadu domba rakyat. Pada Juli 1912, Laskar Mangkunegara kembali dimanfaatkan untuk menciptakan huru-hara anti Cina kemudian diikuti keputusan menjatuhkan skorsing kepada Sarekat Islam.

Dengan adanya skorsing, muncul reaksi perlawanan. Para petani anggota Sarekat Islam melakukan aksi mogok kerja di onderming Krapyak Surakarta. Residen Surakarta kemudian sadar, jika skorsing diperpanjang akan menimbulkan kerusuhan yang tidak terkendali karena itu, mereka segera mencabut skorsing pada 26 Agustus 1912.

Baca Juga : Sejarah Perang Aceh

Tokoh Sarekat Islam

Berikut beberapa tokoh sarekat islam, diantaranya yaitu

Kiai Haji Samanhudi

KH Samanhudi yang memiliki nama kecil Sudarno Nadi lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, 1868 adalah pendiri Sarekat Dagang Islamiyah, sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta.

Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa penjajahan Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Cina pada tahun 1911. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1911, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya. KH Samanhudi meninggal di Klaten, Jawa Tengah pada 28 Desember 1956 dan Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo. Setelah itu,Serikat Islam dipimpin oleh Haji Oemar Said Cokroaminito.

H.O.S. Cokro Aminoto

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto adalah seorang pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) di Indonesia. Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 dan Ia meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun.

Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, ia memiliki tiga murid yang selanjutnya memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia yaitu Musso yang sosialis/komunis, Soekarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang agamis.

Pada Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam. setelah jatuh sakit setelah mengikuti Kongres SI di Banjarmasin, ia meninggal dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. Salah satu kata mutiara darinya yang masyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Hal tersebut menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.

Semaun

Semaun adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI). Semaun lahir di Curahmalang, kecamatan Sumobito, termasuk dalam kawedanan Mojoagung, kabupaten Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899 dan wafat pada tahun 1971.

Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Pada tahun 1915, Ia bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya.

Kemudian pada tahun 1916, pekerjaan di Staatsspoor ia tinggalkan sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu.

Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaoen merupakan figur termuda dalam organisasi. Di tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering digunakan sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan kolonial.

Pada tahun 1918, dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dan uang makan 10%.

Baca Juga : Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Bersama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia.

Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya. Pada awalnya, PKI merupakan bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI berpisah pada bulan Oktober 1921.

Pada akhir tahun 1921, Ia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI namun kurang berhasil.

Abdul Muis

Abdoel Moeis adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan namun tidak tamat. Abdul Moeis lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun.

Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam. Ia dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

Prinsip Dasar Sarekat Islam

Sejak Sarekat Islam didirikan di Solo pada 16 Oktober 1905 dan diresmikan melalui notaris pada tanggal 10 September 1912. Sarekat Islam sudah meletakkan dasar perjuangan atas tiga prinsip, yaitu:

  • Asas agama Islam sebagai dasar perjuangan organisasi.
  • Asas kerakyatan sebagai dasar himpunan organisasi.
  • Asas sosial ekonomi sebagai usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat yang umumnya berada dalam taraf kemiskinan dan kemelaratan.

Pertama, asas agama Islam berdasarkan pernyataan langsung dari HOS Tjokroaminoto alasan pengambilan asas agama Islam dalam dasar Sarekat Islam adalah “Memang Sarekat Islam memakai nama agama sebagai ikatan persatuan bangsa, buat mencapai cita-cita sebenarnya, dan agama tidak akan menghambat tujuan itu.”

Pada dasarnya, Sarekat Islam sudah menyadari bahwa penjajah tidak bisa dihancurkan kecuali dengan iman dan takwa kepada Allah. Untuk itu, umat Islam harus dipersatukan untuk memelihara kehormatan dan harga diri mereka. Umat Islam harus dihimpun dalam satu wadah demi memelihara harga diri mereka sendiri, dan membebaskan diri dari perbudakan Belanda.

Kedua, asas kerakyatan, penderitaan yang dialami oleh seluruh lapisan rakyat akibat kekejaman Belanda, menjadi salah satu alasan Haji Samanhudi mendirikan organisasi ini. Pada tahun 1906 kata “dagang” dibuang dari nama organisasi, karena dianggap kurang tepat jika Sarekat Islam ingin mencakup seluruh lapisan masyarakat. Ide dan asas perjuangan Sarekat Islam merupakan ide dan asas kerakyatan. Sarekat Islam berjuang untuk rakyat miskin dan hidup sengsara. Walaupun para pemimpin SI kebanyakan berasal dari keturunan bangsawan, tapi tidak menjadi halangan bagi mereka untuk melenyapkan kemiskinan dari tanah air.

Ketiga, asas sosial ekonomi, pada masa itu Belanda memberikan fasilitas dan monopoli perdagangan kepada orang Cina yang memiliki kedudukan sebagai warga negara kelas dua atau dikenal dengan istilah Vreemde Oorterlingen (golongan timur asing). Fasilitas dan monopoli yang diterima orang-orang Cina tidak diperoleh para pedagang bumi putra, akibatnya pengusaha bumi putra tidak dapat bersaing dengan pengusaha Cina.

Melihat kenyataan yang ada, Haji Samanhoedi dan Tjokroaminoto memandang untuk menghadapi monopoli kelompok Cina, seluruh potensi nasional khususnya muslim harus dikerahkan untuk mempertahankan hak dan martabat bangsa Indonesia.

Baca Juga : Pemberontakan DI/TII

Penyebab Perpecahan dalam Sarekat Islam

Pada awalnya, Sarekat Islam (SI) dilarang untuk menjalankan organisasinya oleh pemerintah Belanda pada Agustus 1912. Setelah diadakan perubahan pada anggaran dasar SI maka diperbolehkan untuk menjalankan aktivitasnya kembali. Rutgers (2012:4) menerangkan bahwa, “…pada Juni 1913, pengaktifan Pimpinan Pusat SI tidak diizinkan dan untuk sementara waktu, yang diizinkan itu hanya cabang-cabangnya belaka. Baru pada 1916 Pimpinan Pusat SI diperkenankan sesudah pengawasan pemerintah diperkuat”

Pada 26 Januari 1913 diadakan kongres Sarekat Islam pertama di Surabaya. Pada kongres tersebut pimpinan SI Oemar Said Tjokroaminoto menyampaikan intinya bahwa SI setia terhadap pemerintahan Belanda. Hal ini disebutkan dalam Rutgers (2012:4), “SI bukanlah suatu partai politik yang menghendaki revolusi seperti yang disangka kebanyakan orang.

Jika nanti diadakan pengejaran-pengejaran, kita harus meminta perlindungan terhadap gubernur Jenderal. Kita setia dan puas terhadap kekuasaan Belanda. Sungguh tidak benar, kalau kita dikatakan hendak menyebabkan huru-hara, sungguh tidak benar, kalau kita dikatakan berontak. Itu semua tidak benar, tidak, seribu kali tidak.”

Kongres Sarekat Islam I menghasilkan keputusan bahwa Sarekat Islam bukan lagi sebagai organisasi daerah Surakarta tapi organisasi terbuka yang cakupannya meliputi Hindia Belanda. Untuk itu disahkan tiga kota sebagai sentral dari Sarekat Islam meliputi Surabaya, Yogyakarta dan Bandung. Fungsi tiga kota sentral Sarekat Islam menurut Suryanegara (2012:380) diantaranya yaitu:

  • Dari centraal Sjarikat Islam (CSI) Surabaya, membangkitkan kesadaran berpolitik nasional umat Islam yang bergabung dalam Sjarikat Islam di Jawa Timur hingga seluruh wilayah Indonesia Timur;
  • Dari Centraal Sjarikat Islam (CSI) Yogyakarta, membangkitkan kesadaran politik nasional umat Islam yang bergabung dalam Sjarikat Islam di Jawa Tengah hingga seluruh wilayah Indonesia Tengah;
  • Dari Centraal Sjarikat Islam (CSI) Bandung, membangkitkan kesadaran politik nasional umat Islam yang bergabung dalam Sjarikat Islam di Jawa Barat hingga Indonesia barat.

Dalam waktu beberapa bulan sejak kongres Sarekat Islam pertama, SI sempat dibekukan. Menurut Kartodirdjo (Mulyanti, 2010: 22-23) bahwa:

“Sarekat Islam yang berdiri di Semarang sempat menyulut perkelahian antara orang Cina dengan anggota Sarekat Islam Semarang. Perkelahian tersebut terjadi di kampung Brondongan pada tanggal 24 Maret 1913. Penyebab perkelahian adalah kebencian seorang Cina penjual tahu dan nasi, bernama Liem Mo Sing terhadap orang-orang Sarekat Islam.

Semula warung Liem Mo Sing tergolong laku, buruh yang bekerja di perusahaan di dekat warungnya hampir sebagian besar menjadi langganan. Setelah di kampung Brondongan berdiri Sarekat Islam dan buruh perusahaan tersebut menjadi anggota maka berdiri toko dan koperasi. Sebagai akibat warung Liem Mo Sing tidak laku. Oleh karena itu Liem Mo Sing menjadi benci terhadap Sarekat Islam dan berusaha mengganggu orang-orang yang sedang salat, memaki-maki orang-orang Sarekat Islam dan sebagainya.

Pada hari Kamis malam tanggal 27 Maret 1913, seorang bernama Rus setelah salat Isya melihat Liem sedang bersembunyi di bawah surau. Karena diketahui Liem melarikan diri, kemudian dikejar oleh orang-orang yang sedang di surau. Akhirnya Liem tertangkap dan dipukuli, sedangkan orang-orang Cina yang berusaha melarikan diri karena takut ikut dipukuli penduduk karena dikira akan membantu Liem.”

Perselisihan dengan Tinghoa tersebut juga dituliskan oleh Rutgers (2012:5), “kejadian-kejadian seperti merampoki Tinghoa adalah juga tergolong kelompok “nasional” ini. Dalam sikap terhadap bangsa Tinghoa terdapat perubahan antara lain disebabkan oleh meletusnya Revolusi Tiongkok 1911-1912 yang menyebabkan banyak penduduk Tinghoa berubah sikap dan menyakinkan akan benarnya gerakan kemerdekaan di Indonesia juga. Sebaliknya rakyat Indonesia mulai ikut serta dalam demonstrasi yang amat menguntungkan gerakan revolusioner Tionghoa.

Baca Juga : Provinsi di Indonesia

Pengaruh Sarekat Islam dalam Pergerakan Nasional

Pada awalnya, Serikat Islam bernama Serikat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi yang berdasarkan pada Agama dan Perekonomian Rakyat sebagai dasar dalam pergerakannya, tujuannya pula adalah melindungi hak-hak pedagang pribumi dari monopoli dagang yang dilakukan oleh para pedagang besar tionghoa. Sarikat Dagang Islam yang menghimpun pedagang Islam pribumi saat itu diharapkan bisa bersaing dengan pedagang asing seperti Tionghoa, India, dan Arab.

Pada tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berganti nama menjadi Sarekat Islam oleh H.O.S. Tjokroaminoto, pergantian nama ini didasarkan agar Sarekat Islam ini tidak hanya bergerak dalam bidang agama dan Ekonomi saja, namun dapat bergerak dalam bidang politik sehingga membuat ruang gerak Sarekat Islam juga bertambah luas. Setelah Bernama Sarekat Islam sifat gerakan menjadi lebih luas karena tidak dibatasi keanggotaannya pada kaum pedagang saja. Dalam Anggaran Dasar tertanggal 10 September 1912, tujuan perkumpulan ini diperluas, diantaranya yaitu:

  • Memajukan perdagangan;
  • Memberi pertolongan kepada anggota yang mengalami kesukaran (semacam usaha koperasi);
  • Memajukan kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama;
  • Memajukan agama Islam serta menghilangkan faham-faham yang keliru tentang agama Islam.

Program yang baru tersebut masih mempertahankan tujuan lama dalam bidang perdagangan tapi nampak terlihat perluasan ruang gerak yang tidak membatasi pada keanggotaan para pedagang tapi terbuka bagi semua masyarakat.

Tujuan politik tidak tercantumkan karena pemerintah masih melarang adanya partai politik. Perluasan keanggotaan tersebut menyebabkan dalam waktu relatif singkat keanggotaan Serikat Islam meningkat drastis. Mobilisasi terhadap rakyat pun bertambah luas, karena pada saat itu muncul Nasionalisme dalam pengertian politik baru saat Sarekat Islam ini diketuai oleh HOS Tjokroaminoto. Sebagai organisasi poltik pelopor Nasionalisme, saat itu Tjokroaminoto juga memberikan batasan:

“Pengertian Nasional sebagai usaha meningkatkan seseorang pada tingkat natie berjuang menuntut pemerintahan sendiri atau sekurang-kurangnya bangsa Indonesia diberi hak untuk mengemukakan suaranya dalam masalah politik.” (Muhibin:2009).

Dalam Sarekat Islam pun terdapat beberapa program kerja, program kerja dibagi atas delapan bagian yaitu: Mengenai politik Sarekat Islam menuntut didirikannya dewan-dewan daerah, perluasan hak-hakVolksraad dengan tujuan untuk mentransformasikan menjadi suatu lembaga perwakilan yang sesungguhnya untuk legelatif. Sarekat Islam juga menuntut penghapusan kerja paksa dan sistim izin untuk bepergian.

Dalam bidang pendidikan, Serikat Islam menuntut penghapusan peraturan diskriminatif dalam penerimaan murid di sekolah-sekolah. Dalam bidang agama, Serikat Islampun menuntut dihapuskannya segala peraturan dan undang-undang yang menghambat tersiarnya agama Islam. Sarekat Islam juga menuntut pemisahan lembaga kekuasaan yudikatif dan eksekutif dan menganggap perlu dibangun suatu hukum yang sama bagi menegakkan hak-hak yang sama di antara penduduk negeri.

Partai juga menuntut perbaikan di bidang agraria dan pertanian dengan menghapuskan particuliere landerijen (milik tuan tanah) serta menasonalisasi industri-industri monopolistik yang menyangkut pelayanan dan barang-barang pokok kebutuhan rakyat banyak. Dalam bidang keuangan SI menuntut adanya pajak-pajak berdasar proporsional serta pajak-pajak yang dipungut terhadap laba perkebunan.

Selanjutnya, Serikat Islam juga menuntut pemerintah untuk memerangi minuman keras dan candu, perjudian, prostitusi dan melarang penggunaan tenaga anak-anak serta membuat peraturan perburuhan yang menjaga kepentingan para pekerja dan menambah poliklinik dengan gratis

Benda dalam Padmo (2007) menyatakan bahwa “SI mempunyai daya tarik yang jauh jangkauannya di luar penduduk kota yang berpendidikan Barat. Tujuh tahun setelah Tjokroaminoto memimpin SI, partai ini memusatkan perhatiannya secara eklusif pada orang Indonesia dengan merekrut semua kelas, baik di kota maupun desa.

Baca Juga : Kerajaan Samudera Pasai

Mereka adalah pedagang muslim, pekerja di kota, kyai dan ulama, beberapa priyayi, dan tak kurang pula petani ditarik dalam partai politik yang pertama pada masa kolonial di Indonesia ini”. Serikat Islam meratakan kesadaran Nasional terhadap seluruh lapisan masyarakat, baik itu lapisan masyarakat atas maupun lapisan masyarakat tengah, dan rakyat biasa di seluruh Indonesia, terutama melalui Kongres Nasional Senntral Islam di Bandung pada 1916.

Pada periode awal perkembanganya, Sarekat Islam dapat memobilisasi massa dengan sangat baik, hal itu terbukti pada empat tahun berjalannya Serikat Islam yang telah memiliki anggota sebanyak 360.000 orang, kemudian menjelang tahun 1919, anggotanya telah mencapai hampir dua setengah juta orang.

Para pendiri Serikat Islam mendirikan organisasi ini tidak hanya untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Cina, tapi juga untuk membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera. Oleh karena itu, Serikat Islam berhasil mencapai lapisan bawah masyarakat yang berabad–abad hampir tidak mengalami perubahan dan paling banyak menderita.

Pada mulanya Serikat Islam bersifat loyal dan membantu pemerintah. Kongres pertamanya yang diadakan di Bandung pada tahun 1916, kebijakan yang diambil pada saat itu adalah untuk membantu pemerintah. Akan tetapi, pada saat kongres Nasional di Madiun pada 17-20 Februari 1923, kongres mengambil keputusan untuk membentuk sebuah Partai yaitu partai Serikat Islam (PSI), kongres ini juga membicarakan sikap politik partai terhadap pemerintah, pada kongres ini dibahas mengenai perubahan sikap terhadap pemerintah. Perubahan sikap politik tersebut adalah partai tidak mempercayai lagi pemerintah dan partai menolak kerjasama dengan pemerintah, sikap politik ini biasa disebut juga sebagai sikap “Politik Hijrah.”

SI Putih dan SI Merah

Pada tahun 1917, pasca revolusi Bolshevik pada bulan Oktober, Sneesvliet yang merupakan pengasuh para aktis SI menarik ISDV menjadi sebuah organisasi yang lebih radikal. Pada 23 Mei 1920, secara resmi ISDV merubah bentuk menjadi PKI. Sejak terbentuknya PKI, para kader SI yang sebelumnya juga anggota ISDV melebur dalam PKI. Para anggota Sarekat Islam dengan keanggotaan ganda ini berpusat di Semarang.

Pada saat kongres tahun 1921 berlangsung, arah pembicaraan justru terfokus pada ideologi perjuangan. Tiap pihak saling bersikukuh terhadap arah perjuangan melalui keyakinan ideologi masing-masing. Darsono dan kawan-kawan (Semaoen berada di Rusia) sebagai wakil dari SI Semarang, tetap bersikukuh terhadap ideologi Komunisme dan Islam hanya menjadi simbol agama. Sedangkan Tjokroaminoto, Agus Salim, Moeis, serta Suryopranoto tetap pada pendirian awal yaitu Islam tetap menjadi ideologi dan cita dasar pergerakan SI dalam menentukan dasar kebangsaan menuju Indonesia yang merdeka.

Cita dasar pergerakan SI Semarang berpijak pada dua kaki yang masing-masing tergabung dalam lembaga yang berbeda, ternyata menimbulkan konflik berkepanjangan dalam tubuh organisasi. Model ideologi Komunis dinilai sangat bertentangan dengan ide dan gagasan Tjokroaminoto dan Agus Salim. Perdebatan terus berlanjut, berbagai kecaman dari kedua belah terus muncul, sehingga tidak menemukan persamaan di antara keduanya. Dari konfliklah yang menjadi penyebab pecahnya sarekat islam menjadi SI Putih dan SI Merah.

Untuk menghindari perselisihan lebih lanjut, dan keinginan untuk melanjutkan perjuangan Sarekat Islam menentang kolonialisme Belanda. Akhirnya Agus Salim, Moeis dan Suryopranoto mengakhiri hubungan dengan SI Semarang, dengan cara mengesahkan disiplin partai yang sudah disepakati oleh para peserta kongres lainnya.

Pihak SI Semarang yang sudah memprediksi hasil keputusan tersebut tetap tenang dan menerima hasil keputusan tersebut. Disiplin partai sendiri berisi himbauan untuk memilih salah satu lembaga bagi anggota SI yang sebelumnya memiliki keanggotaan ganda dengan PKI. Agus Salim dan Moeis menerapkan disiplin partai dalam SI untuk menghilangkan unsur ideologi Komunis yang telah menyebar dalam SI Semarang dan beberapa SI di sekitarnya.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Dengan berlakunya disiplin partai, sekaligus menyingkirkan anggota SI dengan keanggotaan ganda. Beberapa kelompok yang sudah menentukan sikap keluar dari SI adalah SI Semarang, Kudus, Ambarawa dan Sukabumi. SI Semarang dan beberapa cabang yang mendukungnya merubah nama menjadi Sarekat Rakyat dan tetap melebur di dalam PKI.

Kemunduran Sarekat Islam

Kemunduran Partai Serikat Islam dimulai pada saat struktur organisasi partai yang dianggap telah sempurna, kemudian adapemecatan terhadap Dr. Soekiman yang merupakan salah satu elit pengurus partai. Setelah itu, Dr. Soekiman dan pengikutnya membentuk partai yang diberi nama Partai Islam Indonesia (PII), lalu adanya konflik dalam partai juga membuat partai ini semakin melemah.

Melemahnya partai juga terlihat pada saat “Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)”

Kemudian, hal ini terlihat pada tahun 1938 saat Abikusno sudah mulai tidak konsisten dengan ia memilih menggabungkan PSII ke dalam GAPPI yang dianggap sebagai wadah Organisasi Nasional. Tujuan GAPPI adalah mempersatukan semua partai politik Indonesia Raya. Dasar aksinya adalah hak mengatur diri sendiri, kebangsaan yang bersendikan demokrasi menuju cita-cita bangsa Indonesia.

Kemudian juga kelemahan dan kehancuran partai pun semakin terlihat pada tahun 1939, ketika secara resmi S.M. Kartosuwiryo mengundurkan diri dari kepengurusan Partai, Kartosuwiryo pada saat itu jabatannya adalah sebagai sekjen yang merangkap sebagai wakil Presiden dalam partai, dan setelah ia keluar dari Partai Serikat Islam Indonesia, ia membentuk sebuah lembaga yang dinamakan lembaga Suffah (Pusat Pendidikan Kaderisasi Gerakan).

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Kalingga

Demikian artikel pembahasan tentang sejarah sarekat islam. Semoga bermanfaat