√ 10 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai dan Gambarnya

Posted on

Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai – Kesultanan Pasai, Samudera Darussalam atau Samudera Pasai adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatra, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia. Kerajaan Samudera didirikan oleh Marah Silu yang bergelar Sultan Malik as-Saleh pada sekitar tahun 1267.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Masa kejayaan kerajaan majapahit terjadi pada masa pemerintahan Sultanah Nahrasiyah (Ratu pertama Kerajaan Samudera Pasai). Sedangkan runtuhnya kerajaan majapahit disebabkan karena beberapa pengaruh internal dan eksternal seperti sering terjadi pertikaian antar keluarga kerajaan, perebutan kekuasaan dan jabatan sehingga pemberontakan dan perang saudara tidak bisa dihindari, selain itu ada beberapa penyebab runtuhnya kerajaan samudera pasai yang lain.

Ada banyak peninggalan yang menjadi bukti sejarah kerajaan samudera pasai. Berikut peninggalan kerajaan samudera pasai:

Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai dan Gambarnya

Berikut beberapa peninggalan kerajaan samudera pasai yang menjadi sumber sejarah kerajaan samudra pasai, diantaranya yaitu:

Dirham

Pada zaman dahulu, dirham tidak menggunakan kertas karena itu dirham-dirham yang ada di Kerajaan Samudera Pasai dibuat dari 70% emas murni 18 karat tanpa campuran kimia kertas dengan diameter 10 mm dengan 0,6 gram setiap koinnya.

Ada 2 jenis dirham yang dicetak yaitu satu Dirham dan setengah Dirham. Pada satu sisi dirham atau mata uang emas tersebut tercetak tulisan Muhammad Malik Al-Zahir. Sedangkan di sisi lainnya tercetak tulisan nama Al-Sultan Al-Adil. Dirham banyak digunakan sebagai alat transaski, terutama tanah.

Kemudian, tradisi mencetak dirham mas menyebar ke seluruh Sumatera, bahkan hingga semenanjung Malaka sejak Aceh menaklukkan Pasai pada tahun 1524.

Baca Juga : Peninggalan Kerajaan Majapahit

Cakra Donya

Cakra Donya adalah sebuah lonceng yang bisa dikatakan keramat. Cakra Donya merupakan lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina tahun 1409 M. Cakra Donya memiliki ukuran tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, matahari atau cakrawala, sedangkan Donya berarti dunia.

Pada bagian luar Cakra Donya terdapat sebuah hiasan dan simbol berbentuk aksara Arab dan Cina. Aksara Arab tidak bisa dibaca lagi karena telah aus. Sedangkan aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang sudah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5).

Intinya, Cakra Donya adalah sebuah lonceng impor. Cakra Donya ini adalah hadiah dari kekaisaran Cina kepada Sultan Samudra Pasai. Sejak portugis berhasil dikalahkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, hadiah lonceng ini dipindahkan ke Banda Aceh.

Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Naskah surat Sultan Zainal Abidin merupakan surat yang ditulis oleh Sultan Zainal Abidin sebelum meninggal pada tahun 1518 Masehi atau 923 Hijriah. Surat tersebut ditujukan ke Kapitan Moran yang bertindak atas nama wakil Raja Portugis di India.

Baca Juga : Peninggalan Kerajaan Kutai

Surat Sultan Zainal Abidin ditulis menggunakan bahasa arab, isinya menjelaskan mengenai keadaan Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-16. Selain itu, dalam surat ini juga menggambarkan mengenai keadaan terakhir yang dialami Kesultanan Samudera Pasai setelah bangsa Portugis berhasil menaklukkan Malaka pada tahun 1511 Masehi.

Nama-nama kerajaan atau negeri yang memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Samudera pasai juga tertulis di dalamnya. Sehingga diketahui pengejaan serta dan nama-nama kerajaan atau negeri tersebut. Kerajaan atau negeri yang tertera dalam surat tersebut diantaranya Negeri Mulaqat (Malaka) dan Fariyaman (Pariaman).

Stempel Kerajaan

Stempel kerajaan ini diduga milik Sultan Muhamad Malikul Zahir yang merupakan Sultan Kedua Kerajaan Samudera Pasai. Dugaan tersebut diutarakan oleh oleh tim peneliti sejarah kerajaan Islam. Stempel kerajaan samudera pasai ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Ukuran stempel yang ditemukan yaitu 2×1 cm, diperkirakan terbuat dari bahan sejenis tanduk hewan. Saat ditemukan, kondisi stempel ini sudah patah pada bagian gagangnya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa stempel ini sudah digunakan hingga masa pemerintahan pemimpin terakhir Kerajaan Samudera Pasai yaitu Sultan Zainal Abidin.

Nisan Sultan Malik As-Shalih

Sepasang nisan Sultan Malik As-Shalih berbentuk segi empat pipih bersayap dengan bagian puncak berupa mahkota bersusun dua. Pada setiap nisan terdapat tiga panil disisi depan dan belakang yang berpahatkan kaligrafi Arab. Pada bagian puncak juga terdapat bingkai oval yang berpahatkan kalgrafi Arab. Secarah keseluruhan inskripsi tersebut dapat diartikan sebagai berikut menurut Asmanidar (2016:410):

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

“ini kubur adalah kepunyaan almarhum hamba yang dihormati, yang diampuni, yang taqwa, yang menajdi penasehat, yang terkenal, yang berketurunan, yang mulia, yang kuat beribadah, penakluk, yang bergelar dengan Sultan Malik As-Salih. Tanggal wafat, bulan Ramadhan tahun 696 Hijrah/1297 Masehi)”.

Pada sebelahnya terdapat syair Arab yang diartikan sebagai:

  • Sesungguhnya dunia ini fana, dunia tiada kekal
  • Sungguh, duna ibarat (rumah) sarang yang ditenun oleh laba-laba
  • Cukup sudah bagimu dunia ini wahai pencari makan
  • Hidup (umur) hanya sekejap, siapapun akan mati

Nisan Sultanah Nahrasiyah

Letak makam Ratu Nahrasiyah berada di Desa Meunasah Kuta Krueng, Kecamatan Samudera. Pada makam ratu ini juga memuat silsilah raja-raja Samudera Pasai. Makam beliau merupakan makam muslim terindah di Asia Tenggara. Makam sultanah Nahrasiyah memiliki jirat yang tinggi bersatu dengan bagian nisan, keseluruhan makamnya terbuat dari pualam yang langsung didatangkan dari gujarat.

Makam Sultanah Nahrasiyah juga dihiasi dengan ayat-ayat suci Al-Quran yaitu kaligrafi Surah Yasin lengkap yang terpahat pada nisannya. Selain itu terdapat pahatan ayat kursi, surat Ali Imran ayat 18-19, Surah Al-Baqarah, dan sebuah tulisan dalam aksara Arab menurut Dahlia (2004) dalam (Asmanidar, 2016: 411) yang berarti:

“inilah makam yang bercahaya, yang suci, ratu yang agung yang diampuni. Almarhumah Nahrasiyah yang digelar dari bangsa Khadiyu anak sultan Haidar bin Said anak sultan Zaional Abidin anaka sultan Ahmad anak Sultan Muhammad bin Malik As-Shalih, atas mereka rahmat dan keampunan, mangkat pada hari senin 17 Zulhijjah Tahun 832 atau 1428 Masehi.

Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir

Malik Al-Zahir adalah putera dari Malik Al- Saleh yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1287-1326 M. Letak makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir bersebelahan dengan makam ayahnya Malik Al-Saleh.

Baca Juga : Peninggalan Kerajaan Kediri

Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah merupakan peninggalan dari Dinasti Abbasiyah dan beliau merupakan cicit dari khalifah Al-Muntasir. Teungku Sidi mamangku jabatan Menteri Keuangan di Samudra Pasai. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah terletak di Gampong Kuta Krueng, batu nisannya terbuat dari marmer dihiasi kaligrafi.

Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Di komplek terdapat makam 44 orang ulama dari Kesultanan Samudera Pasai yang dibunuh karena mengharamkan pernikahan raja dengan putri kandungnya. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet terdapat di Gampong Beuringen Kec Samudera. Pada nisan tersebut juga bertuliskan kaligrafi surat Ali Imran ayat 18.

Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Ratu Al-Aqla (Nur Ilah) adalah puteri Sultan Muhammad Malikul Dhahir, Makam Makam Ratu Al-Aqla terletak di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli. Batu nisannya berhiasakan kaligrafi berbahasa Kawi dan Arab.

Demikian artikel pembahasan tentang peninggalan kerajaan samudera pasai secara lengkap. Semoga bermanfaat