√ 26 Peninggalan Kerajaan Kediri Beserta Gambarnya [LENGKAP]

Posted on

Peninggalan Kerajaan Kediri – Kerajaan Kadiri atau Kediri atau Panjalu adalah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu yang ada di Jawa Timur.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Kalingga

Dari awal berdiri, ada 8 raja kerajaan kediri yanga memerintah diantaranya Sri Jayawarsa, Sri Brameswara, Prabu Jayabaya, Sri Sarwaswera, Sri Aryeswara, Sri Gandra, Sri Kameswara dan Sri Kertajaya. Masa kejayaan kerajaan kediri terjadi pada saat pemerintahan Prabu Jayabaya.

Peninggalan Kerajaan Kediri

Bentuk peninggalan sejarah kerajaan kediri berupa prasasti, candi dan juga kitab.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

Berikut beberapa prasasti peninggalan kerajaan kediri diantaranya yaitu:

Prasasti Kamulan

Prasasti Kamulan ditemukan diDesa Kamulan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Prasasti Kamulan ini dibuat pada tahun 1116 Saka (1194 M) tepat pada masa kepemimpinan Raja Kertajaya. Isi prasasti kamulan adalah keterangan berdirinya Kabupaten Trenggalek, yaitu pada Rabu Kliwon, tanggal 31 Agustus 1194.

Prasasti Galunggung

Prasasti Galunggung ditemukan di Rejotangan, Tulung Agung. Prasasti Galunggung memili dimensi 160x80x75 cm dengan bertuliskan huruf Jawa Kuno dengan total 20 baris, walaupun demikian aksara yang terpahat dalam prasasti tersebut sudah sangat sulit dibaca. Hanya bagian tahunnya saja yang masih bisa diketahui bertuliskan tahun 1123 Saka.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Prasasti Jaring

Prasasti Jaring dibuat pada tanggal 19 November 1181. Isi prasasti jaring adalah keterangan tentang pengabulan keinginan penduduk dukuh Jaring melalui senapatinya, Sarwajala. Keinginan tersebut berupa suatu harapan yang belum diwujudkan raja sebelumnya. Dalam prasasti Jaring, diketahui bahwa para pejabat kediri memiliki gelar atau sebutan menggunakan nama hewan, seperti Lembu Agra, Menjangan Puguh dan Macan Kuning.

Prasasti Panumbangan

Prasasti Panumbang adalah prasasti peninggalan kerajaan Kediri yang dibuat pada 2 Agustus 1120. Prasasti Panumbang dikeluarkan oleh Maharaja Bameswara. Isinya berupa penetapan desa Panumbang menjadi sima swatantra (desa bebas pajak).

Prasasti Talan

Prasasti Talan ditemukan di Desa Gurit, Blitar, Jawa Timur. Prasasti ini dibuat pada tahun 1058 Saka (1136 Masehi) berisi tentang penetapan masuknya Desa Talan ke dalam wilayah Panumbang yang bebas pajak. Prasasti Talan dilengkapi dengan pahatan Garudhamukalanca, pahatan berbentuk tubuh manusia bersayap dengan kepala Garuda.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Sirah Keting

Prasasti sirah keting berisi tentang pemberian penghargaan berupa tanah dari Jayawarsa kepada rakyat desa karena rakyat desa ini dianggap memiliki jasa.

Prasasti di Tulungagung dan Kertosono

Kedua prasasti yang berada di Tulungagung dan Kertosono berisi tentang masalah keagamaan dan kedua prasasti ini berasal dari Raja Kameshwara.

Prasasti Ngantang

Prasasti Ngantang berisi tentang pemberian hadiah berupa tanah dan dibebaskan dari pajak oleh Jayabaya. Prasasti Ngantang ditujukan buat rakyat Desa Ngantang karena telah mengabdi untuk Kemajuan Kediri.

Prasasti Padelegan

Ukuran prasasti padelegan adalah tebal 18 cm, lebar atas 81 cm, puncak kurawal 145 cm dan lebar bawah 70 cm. Bahasa yang digunakan dalam prasasti Padelegan adalah bahasa Jawa Kuno. Diperkiraan prasasti padelegan dibuat pada tahun 1038 Saka atau lebih tepatnya tanggal 11 Januari 1117 Masehi. Pembuatan prasasti Padelegan ditujukan sebagai kebaktian Desa Padelegan di masa itu kepada pemerintahan Raja Kamesywara.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Prasasti Ceker

Prasasti ceker berisi tentang anugerah raja dan diberikan kepada penduduk Desa Ceker karena telah mengabdi untuk kemajuan Kediri.

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Berikut beberapa candi peninggalan kerajaan kediri, diantaranya yaitu

Candi Penataran

Letak candi Penataran berada di lereng Gunung Kelud bagian Barat Daya, tepatnya di utara Kota Blitar. Candi penataran merupakan candi termegah di Jawa Timur. Dari prasasti yang ditemukan di lokasi penggalian candi, diketahui bahwa candi panataran dibangun pada masa pemerintahan Raja Srengga hingga pemerintahan Raja Wikramawardhana atau sekitar periode ke 12-14 Masehi.

Candi Tondowongso

Candi Tondowongso ditemukan di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kediri, Jawa Timur pada tahun 2007. Berdasarkan gaya dan bentuk arca yang ditemukan di sekitar candi, diketahui bahwa candi tondowongso ini dibangun pada periode ke-9, dibuat pada masa awal perpindahan sentra politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Walaupun dianggap sebagai inovasi sejarah terbesar di periode modern, kondisi candi Tondowongso dan kompleks di sekitarnya hingga sekarang masih memprihatinkan dan belum menerima perhatian dari pemerintah.

Candi Gurah

Candi Gurah ditemukan di Kec. Gurah, Kediri Jawa Timur pada tahun 1957. Letak candi Gurah berada persis 2 km dari situs candi Tondowongso. Dari pondasinya, diketahui bahwa candi gurah berukuran 9 meter x 9 meter.

Baca Juga : Sejarah Perang Aceh

Candi Mirigambar

Candi Mirigambar adalah candi peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di lapangan desa Mirigambar, Kec. Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur. Candi Mirigambar diperkirakan dibangun pada tahun 1214-1310 Saka. Strukturnya terbuat dari kerikil bata merah, menyerupai halnya kebanyakan candi-candi yang ada di Jawa Timur. Seorang petinggi desa Mirigambar pada 1965 melindungi candi ini dari agresi ikonoklastik sehingga sampai sekarang candi ini masih sanggup kita temukan.

Candi Tuban

Saat ini, kondisi candi Tuban telah luluh lantah dan hanya tersisa pondasinya saja. Candi ini berjarak 500 meter dari letak Candi Mirigambar saat ini telah ditimbun kembali oleh tanah alasannya sudah tidak dimungkinkan lagi untuk dibangun.

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

Berikut beberapa kitab peninggalan kerajaan kediri, terdiri atas:

Kitab Baratayuda

Kitab Baratayudha ditulis pada zaman Jayabaya, kitab ini memberikan gambaran terjadinya perang saudara antara panjalu melawan Jenggala. Perang saudara itu digambarkan dengan perang antara kurawa dengan pandawa yang masing-masing merupakan keturunan Barata.

Kitab Arjuna Wiwaha

Kitab arjuna wiwaha ditulis oleh Empu Kanwa (pada zaman Pemerintahan Raja Airlangga, Kahuripan). adalah kakawinpertama yang berasal dari Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan PrabuAirlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin ini diperkirakan digubah sekitar tahun 1030.

Kitab Arjuna menceritakan tentang kisah Arjuna pada saat ia dipenjara di Gunung Mahamerau yang kemudian ia diuji oleh para dewa dengan tujuh malaikat yang diutus. Malaikat ini diperintahkan untuk mengganggunya. Nama-nama malaikat yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Malaikat gagal menggoda Arjuna dan Batara Indra menyamar menjadi Brahmana tua.

Baca Juga : Kedatangan Bangsa Barat Ke Indonesia

Mereka membahas agama dan Indra menjelaskan identitasnya dan pergi. Kemudian seekor babi mengamuk dan Arjuna menembaknya mati. Pada saat yang sama seorang pemburu tua datang dan menembaknya.

Ternyata pemburu tersebut adalah Siwa Batara. Kemudian Arjuna diperintahkan untuk membunuh Niwatakawaca, yaitu seorang raksasa yang mengganggu langit. Arjuna memenuhi tugasnya dan diberi hadiah untuk menikahi ketujuh malaikat ini.

Kitab Smaradahana

Kitab Smaradahana ditulis pada zaman Raja Kameswari oleh Mpu Darmaja. Isinya menceritakan tentang seepasang suami istri Smara dan Rati yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rail kena ketuk dan mati terbakar oleh kedua suami istri itu dihidupkan lagi dan menjelma sebagai Kameswara dan permasaisurinya.

Kitab Mahabarata

Kitab ini menceritakan tentang perselisihan antara keturunan Raja Bharata dari Hastinapur yaitu Pandawa sebagai sisi baik melawan Kurawa sebagai kemalasan. Pandawa (lima saudara kandung) dan Kurawa (seratus saudara laki-laki: 99 laki-laki, satu perempuan) adalah sepupu dari garis ayah.

Perang antara pandawa dan kurawa dikenal sebagai Bharatayudha (perang antara keturunan Bharata), perang ini terjadi di wilayah Kurusetra dan dimenangkan oleh Pandawa. Meskipun menang, banyak saudara dan hamba Pandawa meninggal dalam perang.

Kitab Gatotkacasraya

Pengarang kitab Gatotkacasraya adalah Mpu Panuluh. Isi kitab Gatotkacasraya berupa kisah pahlawan yang menyatukan putra Arjuna (Abimanyu) dengan Siti Sundhari. Pahlawan tersebut bernama Gatotkaca.

Kitab Kresyana

Kitab Kresnayana ditulis oleh Mpu Triguna pada zaman Raja Jayaswara. Isinya mengenai perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.

Kitab Lubadka

Kitab Lubadka dikarang oleh Mpu Tanakung pada zaman Raja Kameswara. Isi kitab lubadka menceritakan tentang seorang pemburu bernama lubadka. Ia sudah banyak membunuh pada suatu terhadap Syiwa, sehingga rohnya yang semestinya neraka menjadi surga.

Kitab Hariwangsa

Pengarang kitab Hariwangsa adalah Mpu Panuluh. Hariwangsa memiliki arti garis keturunan atau silsilah dari sang Hari atau keturunan Wisnu. Namun kitab ini memiliki nama Hariwangsa yang sebagian orang menganggapnya kurang cocok. Hal tersebut disebabkan karena didalamnya terdapat sebagian kecil dari ceritanya. Pembuatan kitab hariwangsa dilakukan pada tahun 1135-1157 Masehi atau pada masa pemimpinan Prabu Jayabaya.

Baca Juga : Masuknya Islam Ke Indonesia

Kitab Sumarasantaka

Pengarang kitab Sumarasantaka adalah Empu Monaguna. Isi kitab Sumarasantaka adalah kutukan harini. Kutukan Harini adalah kisah seorang bidadari bernama Harini yang membuat kesalahan dan kemudian dikutuk menjadi manusia sehingga sambil menunggu kutukan itu hilang sendirinya, Harini sementara harus tinggal di bumi.

Kitab Ling Way Taita

Kitab ini menceritakan kehidupan dan keadaan pemerintahan di istana atau benteng selama Kerajaan Kediri.

Kitab Hariwangsa

Kitab ini menceritakan asal usul Krishna (Krishna) yaitu sepupu Pandawa yang menjadi penasihat Pandawa dalam perang. Krishna juga mendorong Arjuna, yang berkecil hati untuk melawan Kurawa karena menghadapi dan membunuh guru, leluhur dan kerabatnya sendiri.

Demikian artikel pembahasan tentang peninggalan kerajaan kediri secara lengkap. Semoga bermanfaat