√ Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia : Saluran, Teori dan Bukti Masuknya Islam Ke Indonesia

Posted on

Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Lengkap – Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang mayoritas beragama Islam (muslim) dan merupakan negara dengan mayoritas terbesar umat muslim di dunia. Bagaimana sejarah masuknya islam di Indonesia?

Baca Juga : Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Sejarah Islam Di Indonesia

Islam mulai diperkenalkan ke berbagai negara di dunia sejak dahulu mulai ke afrika, timur tengah, asia dan eropa. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, agama Islam sudah disebarluaskan ke berbagai negara bahkan setelah beliau wafat pada 632 M, syi’ar agama Islam masih terus dilakukan oleh para khalifah dan para pemimpin Dinasti Islam lainnya.

Islam pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada saat Dinasti Umayyah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Indonesia yang terkenal akan rempah-rempahnya, ramai dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru dunia. Para pedagang muslim juga berdatangan ke Indonesia untuk berdagang dan sudah berlangsung dari abad ke abad.

Selain berdagang, para pedagang muslim yang berasal dari Arab, Gujarat dan Persia juga mendakwahkan ajaran Islam pada penduduk sekitar.

Islam masuk ke nusantara sekitar abad ke 7 masehi dan sebelum islam masuk di nusantara sudah banyak agama dan kepercayaan yang berkembang seperti animisme, dinamisme, hindu, buddha. Islam masuk di nusantara melalui berbagai macam cara seperti melalui perdagangan, kurtural (kebudayaan), pendidikan, kekuasaan politik.

Setelah islam masuk di nusantara, islam langsung berkembang dengan sangat pesat dan semakin banyak orang yang masuk islam karena cara penyebaran islam sangat bagus dan tanpa paksaan. Karena semakin banyak orang yang memeluk agama islam sehingga hal ini menyebabkan mulai banyak kerajaan kerajaan islam yeng berdiri di nusantara. Kerajaan yang pertama berdiri di nusantara adalah samudera pasai, selanjutnya muncul banyak kerajaan islam di Indonesia seperti Demak, Cirebon, Ternate, Tidore, Aceh, Perlak, Banten dan lain sebagainya.

Baca Juga : Sejarah G30S/PKI

Perkembangan Islam Di Indonesia

Ada 6 (enam) saluran perkembangan Islam di Indonesia diantaranya yaitu:

Pendekatan Perdagangan

Para pedagang Islam dari Gujarat, Persia dan Arab tinggal berada di Malaka dan pelabuhan di Indonesia selama berbulan-bulan, mereka menunggu angin musim yang baik untuk kembali berlayar. Maka terjadilah interaksi atau pergaulan antara para pedagang tersebut dengan para raja, bangsawan dan masyarakat setempat. Kesempatan tersebut digunakan oleh para pedagang untuk menyebarkan agama Islam.

Pendekatan Politik

Masuknya Islam melalui saluran politik bisa dilihat dari Samudera Pasai menjadi kerajaan dan banyak sekali penduduk yang memeluk agama Islam. Selain itu, ini juga terjadi di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah raja mereka memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah tersebut. Atau bisa dikatakan bahwa kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan yang bukan muslim untuk memeluk agama Islam.

Pendekatan Perkawinan

Dari sisi ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi sehingga penduduk pribumi, terutama puteri-puteri bangsawan banyak yang tertarik untuk menjadi istri para pedagang tersebut. Sebelum prosesi pernikahan, mereka telah diIslamkan terlebih dahulu, dan setelah mereka memiliki keturunan lingkungan kaum muslim semakin luas. Sehingga tak heran jika banyak sekali kampung-kampung muslim bermunculan.

Awalnya kampung muslim berkembang di pesisir pantai, biasanya disebut dengan kampung arab dan masih terkenal hingga saat ini. Dalam perkembangan selanjutnya, karena ada wanita yang keturunan bangsawan yang dinikahi oleh pedagang itu, tentu saja kemudian dapat mempercepat proses islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten, Brawijayadengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah, raja pertama kerajaan Demak dan lain sebagainya.

Baca Juga : Kerajaan Samudera Pasai

Pendekatan Pendidikan

Biasanya pendekatan melalui pendidikan dilakukan oleh para wali, ulama, kiai, atau guru agama yang mendidik murid mereka. Tempat yang paling pesat untuk mengembangkan ajaran Islam adalah pondok pesantren. Di pesantren para santri dididik dan diajarkan pendidikan agama Islam secara mendalam, sehingga benar-benar menguasai ilmu agama. Setelah lulus dari pesantren, para santri kembali ke daerah asal lalu menyebarkan kepada masyarakat umum pelajaran yang sudah mereka dapatkan dari pesantren.

Pendekatan Kesenian

Kesenian digunakan para wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Salah satu media pertunjukan yang paling terkenal melalui pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga, penyebar Islam di daerah Jawa Tengah adalah sosok yang sangat mahir dalam memainkan wayang. Cerita wayang yang dimainkan berasal dari cerita Ramayana dan Mahabarata yang memang sudah sangat Tasawuf merupakan bagian ajaran dari Agama Islam.

Biasanya, para tokoh tasawuf memiliki keahlian khusus sehingga bisa menarik penduduk untuk memeluk ajaran Islam. Keahlian tersebut biasanya termanifestasi dalam bentuk penyembuhan bagi orang-orang yang terkena penyakit, lalu disembuhkan. Ada juga yang termanifestasi sebagai kekuatan magic yang memang sudah sangat akrab dengan penduduk pribumi waktu itu terkenal dan digemari oleh masyarakat.

Dalam memainkan wayang, selalu disisipkan ajaran-ajaran Islam sehingga penduduk pribumi mulai akrab dengan ajaran Islam melalui media pertunjukan ini. Yang paling manarik dalam pertunjukan ini yaitu para penduduk tidak dipungut biaya ketika mereka menyaksikan pertunjukan wayang, mereka hanya diminta untuk melantunkan kalimat syahadat, sehingga mereka akhirnya masuk Islam dan ikut mendalami ajarannya.

Pendekatan Tasawuf

Tasawuf merupakan bagian ajaran dari Agama Islam. Biasanya, para tokoh tasawuf memiliki keahlian khusus sehingga dapat menarik penduduk untuk memeluk ajaran Islam. Keahlian ini biasanya termanifestasi dalam bentuk penyembuhan bagi orang-orang yang terkena penyakit. Ada juga yang termanifestasi sebagai kekuatan magic yang memang sudah sangat akrab dengan penduduk pribumi saat itu.

Teori Masuknya Islam Di Indonesia

Ada beberapa teori masuknya agama islam ke Indonesia diantaranya yaitu:

Baca Juga : Sejarah Perang Aceh

Teori Mekkah

Teori Mekah menyatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia langsung dari Mekah atau Arab. Proses masuk tersebut berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori Mekkah adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, yaitu salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia yang dikemukakan pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.

Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia curiga terhadap prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri Melayu mengenai hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama.

Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang-orang pertama (orang Arab), bukan hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA tersebut hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafir (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Biasanya kaum Sufi mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.

Teori Gujarat

Teori Gujarat menyatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Letak Gujarat berada di India bagain barat, berdekatan dengan Laut Arab. Tokoh yang memperkenalkan teori Gejarat kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19.

Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia.

Selanjutnya, teori Pijnapel diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif” di depan namanya.

Kemudian eori Gujarat juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang ada di Kambay, Gujarat.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Kalingga

Akhirnya, Moquetta berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang sudah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.

Teori Persia

Teori Persia menyatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus teori Persia adalah Hoesein Djajadiningrat, yakni sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Seperti tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi.

Selain itu, ajaran mistik yang banyak kesamaan seperti antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia dan juga umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyakan muslim di Iran.

Bukti Masuknya Islam di Indonesia

Berikut beberapa bukti sejarah masuknya islam di Indonesia, diantaranya yaitu:

Surat Raja Sriwijaya

Salah satu bukti masuknya Islam ke Indonesia dikemukakan oleh Prof.Dr.Azyumardi Asra dalam bukunya Jaringan Ulama Nusantara. Dalam buku itu, Azyumardi menyebutkan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada masa Kerajaan Sriwijaya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya surat yang dikirim oleh Raja Sriwijaya kepada Umar bin Abdul Azis yang berisi ucapan selamat atas terpilihnya Umar bin Abdul Azis sebagai pemimpin dinasti Muawiyah.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Makam Fatimah binti Maimun

Berdasarkan penelitian sejarah telah ditemukan sebuah makan Islam di Leran, Gresik. Pada batu nisan dari makam tersebut tertulis nama seorang wanita, yaitu Fatimah binti Maimun dan angka tahun 1082. Artinya, bisa dipastikan pada akhir abad ke-11 Islam sudah masuk ke Indonesia. Dengan demikian, bisa diduga bahwa Islam masuk dan berkembang di Indonesia sebelum tahun 1082.

Makam Sultan Malik As Saleh

Makam Sultan Malik As Saleh yang berangka tahun 1297 merupakan bukti bahwa Islam telah masuk dan berkembang di daerah Aceh pada abad ke-12. Malik As Saleh adalah seorang sultan, maka diperkirakan bahwa Islam sudah masuk ke daerah Aceh jauh sebelum Malik As Saleh mendirikan Kesultanan Samudra Pasai.

Cerita Marco Polo

Pada tahun 1092, seorang musafir dari Venesia (Italia) bernama Marco Polo singgah di Perlak dan beberapa tempat di Aceh bagian Utara. Marco Polo sedang melakukan perjalanan dari Venesia ke Negeri Cina. Ia menceritakan bahwa pada abad ke-11, Islam telah berkembang di Sumatra bagian Utara. Ia juga menceritakan bahwa Islam berkembang sangat pesat di Jawa.

Cerita Ibnu Battutah

Pada tahun 1345, Ibnu Battutah mengunjungi Samudra Pasai. Ia menceritakan bahwa Sultan Samudra Pasai sangat baik terhadap ulama dan rakyatnya. Selain itu, ia menceritakan bahwa Samudra Pasai merupakan kesultanan dagang yang sangat maju. Di sana Ibnu Battutah bertemu dengan para pedagang dari India, Cina dan Jawa.

Kerajaan Islam Di Indonesia

Penyebaran yang sangat pesat, membuat Indonesia menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Berikut kerajaan kerajaan bercorak islam di Indonesia:

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali tercatat sebagai kerajaan Islam di Nusantara. Awal kerajaan ini belum diketahui secara pasti namun menurut pendapat Hasyimi, berdasarkan naskah tua yang berjudul Izhharul Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad ke-9. Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tapi setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran.

Dengan kemunduran Perlak, muncul seorang penguasa lokal bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil mempersatukan daerah Samudra dan Pasai sehingga dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara, yang berbatasan dengan Selat Malaka.

Kerajaan Demak

Sebelum dikenal dengan nama Demak, daerah tersebut dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

(sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.

Kerajaan Banten

Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka daerah Banten diserahkan pada putranya yang bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah menetap di Cirebon dan lebih menekuni hal keagamaan. Dengan diberikannya Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan dasar-dasar pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama dengan masa pemerinthan tahun 1552-1570.

Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda sehingga daerahnya strategis dan sangat ramai untuk perdagangan nasional. Pada masa pemerintahan Hasannudin, Banten bisa melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga Banten bisa berkembang cukup pesat dalam berbagai bidang kehidupan.

Kerajaan Mataram Islam

Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang pada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang.

Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi pada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan Raden Trenggono.

Akibat perang saudara tersebut, banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri dan mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan begitu kerajaan Pajang berakhir dan muncul kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram berada di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.

Kerajaan Gowa-Tallo

Pada abad ke-16, Ada beberapa kerajaan berdiri di Sulawesi Selatan seperti Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Setiap kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga muncul kerajaan yang lebih dikenal dengan kerajaan Makasar.

Sebenarnya nama Makasar adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik dari Indonesia Timur maupun Indonesia Barat. Posisinya yang strategis, maka kerajaan Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.

Baca Juga : Sejarah G30S/PKI

Kerajaan Ternate-Tidore

Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah kepulauan yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala.

Pada abad ke-12, saat permintaan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil hutan. Perkebunan cengkeh banyak ada di Pulau Buru, Seram dan Ambon.

Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagang yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya pedagang Islam dari Jawa Timur, melalui jalan dagang agama Islam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.

Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya adalah Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku.

Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15.

Kerajaan Malaka

Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Parameswara berasal dari Sriwijaya dan merupakan putra Raja Sam Agi. Pada saat itu, ia masih menganut agama Hindu. Ia melarikan diri ke Malaka karena kerajaannya di Sumatera runtuh akibat diserang Majapahit. Pada saat Malaka didirikan, ada penduduk asli dari Suku Laut yang hidup sebagai nelayan. Mereka berjumlah lebih kurang tiga puluh keluarga.

Raja dan pengikutnya merupakan rombongan pendatang yang memiliki tingkat kebudayaan yang jauh lebih tinggi, untuk itu, mereka berhasil mempengaruhi masyarakat asli. Selain bersama penduduk asli tersebut, rombongan pendatang mengubah Malaka menjadi sebuah kota yang ramai. Selain menjadikan kota sebagai pusat perdagangan, rombongan pendatang juga mengajak penduduk asli menanam tanaman yang belum pernah dikenal sebelumnya seperti tebu, pisang, dan rempah rempah. Rombongan pendatang juga menemukan biji-biji timah di daratan. Dalam perkembangannya, kemudian terjalin hubungan perdagangan yang ramai dengan daratan Sumatera.Salah satu komoditas penting yang diimpor Malaka dari Sumatera adalah beras.

Kerajaan Aceh

Letak kerajaan Aceh berada di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Aceh Besar. Kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M, diatas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497). Dia yang membangun kota Aceh Darussalam. Menurutnya pada masa pemerintahannya, Aceh Darussalam mulai mengalami kemajuan dalam bidang perdagangan karena saudagar-saudagar Muslim yang sebelumya berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatan mereka ke Aceh, setelah Malaka dikuasai Portugis pada tahun 1511 M.

Baca Juga : Pemberontakan DI/TII

Sebagai akibat penaklukan Malaka Utara melalui selat Karimata dari Portugis, jalan dagang yang sebelumnya dari laut Jawa ke Sunda dan menyusur pantai Barat Sumatera, lalu ke Aceh. Sehingga Aceh ramai dikunjungi saudagar dari berbagai negeri.

Kerajaan Pajang

Kesultanan Pajang merupakan pelanjut dan dipandang sebagai pewaris kerajaan Islam di Demak. Kesultanan yang terletak di Kartasura ini merupakan kerajaan Islam yang pertama yang terletak di pedalaman pulau Jawa. Usia kesultanan ini tidak panjang, kekuasaaan dan kebesarannya kemudian diambil oleh kerajaan Mataram. Sultan atau Raja yang pertama Kerajaan Pajang adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, lereng gunung Merapi.

Kerajaan Cirebon

Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan Islam yang pertama di Jawa Barat yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Pada abad ke-16, Cirebon merupkan daerah kecil dibawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan seorang juru labuhan bernama Pangeran Walangsungsang, seorang tokoh yang memiliki hubungan darah dengan Raja Pajajaran.

Kerajaan Banjar

Kerajaan Banjar muncul ketika terjadi peristiwa pertentangan dalam keluarga istana, antara Pangeran Samudera sebagai pewaris sah kerajaann Daha, dengan pamannya yang bernama Pangeran Tumenggung. Pada saat, Raja Sukarama hampir meninggal, Ia berwasiat agar cucunya yang menggantikannya yaitu Raden Samudera. Tapi, keempat putranya tidak menerima wasiat itu.

Pertentangan tersebut menimbulkan keluarnya Pangeran Samudera dari kerajaan dan berkelana hingga ke kerajaan Demak dan meminta bantuan disana, dan akhirnya kerajaan Demak mau membantu pangeran Samudera asalkan dia mau menganut ajaran Islam dan akhirnya berhasil dan kerajaan itu berkembang menjadi kerajaan Islam.

Baca Juga : Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Demikian artikel tentang sejarah masukya islam di Indonesia, semoga bermanfaat