√ Sejarah Perang Banjar : Latar Belakang, Penyebab, Jalan, Akhir dan Tokoh

Posted on

Perang Banjar (1859-1905) – Perang Banjar adalah perang perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda yang berlangsung antara tahun 1859-1905 yang terjadi di Kesultanan Banjar yang meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.Perang Banjar juga disebut dengan Perang Banjar-Barito atau Perang Kalimantan Selatan.

Baca Juga : Sejarah Perang Aceh Melawan Belanda (1873-1904)

Apa latar belakang perang banjar? Siapa saja tokoh perang banjar? Bagaimana akhir perang banjar? Agar lebih memahaminya, kali ini kita akan membahas tentang sejarah perang banjar, latar belakang, penyebab, jalan, akhir dan tokoh dalam perang banjar secara lengkap.

Kedatangan Belanda di Tanah Banjar

Pada abad ke-16, tepatnya pada tahun 1606 Belanda atas nama East United India Company datang dan menjalin kontrak di Pulau Kalimantan. Pada tahun 1635, kontrak pertama perdagangan lada ditandatangani Belanda dengan Kesultanan Banjar. Pada saat itu, lada merupakan produk mewah di Eropa dan hal tersebut menjadi alasan utama Belanda datang ke Banjar. Setelah beberapa dekade muncul peperangan kecil dan bentrokan senjata karena kontrak lada yang tidak dipenuhi dan yang paling serius adalah insiden pembunuhan 64 orang Belanda dan 21 orang Jepang di Kota Waring pada tahun 1638.

Pada abad ke-19, Herman Willem Daendels yang merupakan Gubernur Hindia Belanda, memutuskan untuk meninggalkan Banjarmasin atas pertimbangan tidak ekonomis. Selanjutnya, Inggris mengambil alih Kalimantan sebagai akibat dari Perang Napoleon pada tahun 1811. Akan tetapi, pada Desember 1816 kewenangan Kalimantan kembali ke tangan Belanda. Belanda menandatangi kontrak baru dengan Sultan. Pada Januari 1817, bendera Sultan diganti dengan bendera Belanda kemudian perlahan kekuasaan Sultan digantikan oleh Hindia Belanda. Pada tahun-tahun berikutnya, muncul kembali pemberontakan kecil akibat adanya kontrak tidak adil yang ditandatangani.

Latar Belakang Perang Banjar

Perang Banjar berlangsung antara tahun 1859-1905 (menurut sumber Belanda 1859-1863). Sebenarnya, konflik dengan Belanda sudah dimulai sejak Belanda mendaoatkan hak monopoli dagang di Kesultanan Banjar. Dengan ikut campurnya Belanda dalam urusan kerajaan, maka kekalutan makin bertambah.

Pada tahun 1785, Pangeran Nata yang menjadi wali putra makota, mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar Sultan Tahmidullah II (1785-1808) dan membunuh semua putra almarhum Sultan Muhammad. Namun, ada satu pewaris tahta yang selamat yaitu Pangeran Amir, kemudian Pengeran Amir mengadakan perlawanan dengan dukungan pamannya Arung Turawe tapi gagal dan akhirnya, Pangeran Amir (kakek Pangeran Antasari) tertangkap dan dibuang ke Srilangka.

Baca Juga : Perang Dunia 1

Sejarah Perang Banjar

Sultan Tahmidillah I mempunyai tiga orang anak yang bisa menggantikan dirinya sebagai sultan yaitu Pangeran Amir, Pangeran Abdullah dan Pangerah Rahmat. Namun Pangeran Nata yang merupakan saudara Sultan Tahmidillah I muncul dan ingin merebut tahta. Dengan bantuan Belanda, Pangeran Nata berhasil membunuh Pangeran Abdullah dan Pangeran Rahmat, sedangkan Pangeran Amir yang selamat. Kemudian Belanda mengangkat Pangeran Nata menjadi Sultah Tahmidillah II.

Tidak terima Panengeran Nata menjadi Sultan Banjar, Pangeran Amir yang selamat melakukan perlawanan dengan bantuan pamannya bernama Arung Tuwawe. Namun usaha yang dilakukan Pangeran Amir dengan mudah dikalahkan oleh Sultan Tahmidillah II dan Belanda. Pangeran Amir ditangkap dan dibuang ke Ceylon atau Sri Lanka. Kemenangan yang diperoleh Sultan Tahmidillah atas Pangeran Amir tidaklah gratis, ia harus menyerahkandaerah Kotawaringin, Bulungan, Pasir dan Kutai kepada Belanda sebagai imbalan.

Pada tahun 1809, Pangeran Amir dianugerahi seorang putra yang diberi nama Pangeran Antasari. Pangeran Antasari kecil sudah membenci kehidupan istana yang penuh politik, intrik dan pengaruh kekuasaan kolonial Belanda. Sehingga, ia lebih sering hidup di masyarakat biasa, bermain bersama rakyat biasa, hidup bertani dan berdagang serta mempelajari agama Islam pada para ulama.

Agama Islam sangat berpengaruh ke kehidupan Pangeran Antasari. tidak heran Pangeran Antasari memiliki akhlak yang baik, jujur, ikhlas dan pemurah, sangat tabah dalam menghadapi cobaan dan memiliki pandangan yang cukup luas dan jauh sehingga dia sangat disukai oleh rakyat.

Kemudian Sultan Tahmidillah II wafat dan pemerintahan diganti oleh Sultan Sulaiman yang hanya dua tahun memerintah, selanjutnya, pemerintahan dilanjutkan oleh Sultan Adam. Kini wilayah Kesultanan Banjar hanya tersisa Banjarmasin, Hulusungai dan Martapura karena wilayah lainnya sudah diambil oleh Belanda karena suatu perjanjian.

Perjanjian Banjar yang ditandatangani pada tahun 1826 cukup merugikan Kesultanan Banjar. Isi perjanjian banjar tersebut diantaranya:

  • Kesultanan Banjar tidak bisa membuka hubungan diplomasi dengan negara selain Belanda.
  • Pengecilan wilayah Kesultanan Banjar karena beberapa bagian wilayah menjadi milik dan diawasi oleh Belanda.
  • Tokoh yang memangku jabatan Mangkubumi harus disetujui oleh pemerintah Belanda.
  • Padang perburuan seeperti Padang Bajingah, Padang Pacakan, Padang Simupuran, Padang Ujung Karangan dan Padang Atirak yang menjadi tradisi dan penuh dengan menjangan harus diserahkan ke Belanda dan penduduk sekitar dilarang berburu di menjangan itu.
  • Pajak penjualan intan yang harus dibayarkan ke Belanda yaitu 10% dari harga intan dan harga pembeliannya juga diatur oleh Belanda.

Baca Juga : Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Satu hal yang dirasa menguntungkan Banjar yaitu Belanda melindungi Kesultanan Banjar apabila diserang oleh musuh baik musuh dari dalam negeri maupun luar negeri. Walau kelihatannya Belanda melindungi kedaulatan Kesultanan Banjar justru Belandalah yang merupakan musuh Kesultanan Banjar.

Perjanjian yang tidak seimbang tentu dipengaruhi oleh tindakan Pangeran Nata yang dibantu oleh Belanda untuk merebut kekuasaan. Akibatnya, Pangeran Nata harus membalas budi Belanda dengan perjanjian yang sangat menguntungkan Belanda baik dari jangka pendek maupun jangka panjang.

Setelah Sultan Adam mangkat, Pangeran Tamjidillah diangkat oleh Sultan Banjar, sebenarnya rakyat Banjar ingin agar Pangeran Hidayatullah yang menjadi sultan karena dia adalah putra dari Sultan Adam. Namun Belanda tetap memaksa agar Pangeran Tamjidillah tetap menjadi Sultan dan Pangeran Hidayatullah hanya sebagai Mangkubumi. Penindasan dan perlakuan Belanda yang seenaknya sendiri pada rakyat Kesultanan banjar membuat rakyat marah.

Pemerintah Hindia Belanda mulai waspada akan kemunculan pemberontakan. Penduduk Banjar mulai melawan Belanda dan membawa semangat Perang Agama. Kelemahan Sultan Tamjidillah mulai mengakibatkan kekacauan. Kondisi yang semakin panas membuat Pangeran Antasari muncul sebagai pemimpin rakyat Banjar. Awalnya, Pangeran Antasari menghimpun kekuatan rakyat yang sudah muak pada Belanda, kemudian ia mengajak Pangeran Hidayatullah.

Pada 28 April 1859, terjadilah Perang Banjar. Pihak Kesultanan Banjar dipimpin oleh Pangeran Antasari yang dibantu oleh Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, Haji Buyasin, Tumenggung Antaluddin, Pangeran Amrullah dan lainnya. Serangan mengarah ke tambang Nassau Oranje milik belanda dan Benteng Pengaron. Sebagai reaksi, Pemerintah Hindia Belanda melakukan intervensi dan mengutus Kolonel Augustus Johannes Andersen yang dibantu oleh Letnan Kolonel G. M. Verspyck untuk mengambil alih komando militer.

Setelah berhasil menguasai dua tempat tersebut, muncul pertempuran di berbagai tempat seperti Pertempuran Benteng Tabanio di Agustus 1859, Pertempuran Benteng Gunung Lawak pada September 1859, Pertempuran Munggu Tayur pada Desember 1859, Pertempuran Amawang pada Maret 1860. Tumenggung Surapati sukses merusakkan kapal Onrust di Sungai Barito.

Keberpihakan Pangeran Hidayatullah kepada rakyat semakin jelas dan menjadi anti Belanda. Dia menolak tuntutan oleh Belanda agar menyerah. Hingga akhirnya, pada Juni 1860 Belanda menghapus Kesultanan Banjar dan memerintahkan seorang petinggi Belanda untuk memerintah Kesultanan Banjar.

Setelah para kepala daerah dan para ulama bergabung dengan pemberontak, perang semakin meluas. Tapi sayangnya, pasukan pemberontak kalah dari persenjataan Belanda yang begitu canggih dan modern. Setelah terus berperang hingga tiga tahun, akhirnya pada tahun 1861 Pangeran Hidayatullah menyerah ke Belanda dan dibuang ke daerah Cianjur.

Baca Juga : Masa Pendudukan Jepang di Indonesia

Penyerahan diri yang dilakukan Pangeran Hidayatullah membuat Pangeran Antasari menjadi satu-satunya pemimpin pemberontakan dan keturunan Kesultanan Banjar. Untuk memperkuat kedudukan sebagai pemimpin tertinggi, Pangeran Antasari meneriakkan slogan “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah”. Sehingga rakyat, alim ulama dan pejuang mengakui Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Pangeran Antasari tidak bisa menolak dan dia harus mengemban kedudukan yang dipercayakan rakyat dan kaum ulama sepenuhnya. Kini Pangeran Antasari bertugas sebagai Kepala Pemerintahan, Komando Tertinggi Perang dan Pemimpin Islam Tertinggi.

Semakin mendekati akhir dan kekalahan Kesultanan Banjar sedikit demi sedikit semakin tampak. Pasukan Belanda mendapat pasokan berbagai persediaan dan pasukan bantuan dari Batavia. Karena terus terdesak, Pangeran Antasari memindahkan markas komando di Sungai Teweh dan ia mendapat bantuan dari dua putranya yaitu Gusti Muhammad Said dan Gusti Muhammad Seman. Selain itu, ia juga dibantu oleh Kiai Demang Lehman dan Tumenggung Surapati. Namun beberapa hari kemudian Pangeran Antasari wafat lalu dimakamkan di Hulu Teweh.

Walaupun Pangeran Antasari sudah wafat, pemberontakan masih berlanjut dengan dipimpin oleh dua putra pangeran Antasari. Perlawanan yang dilakukan tetap melemah karena perbedaan kekuatan yang signifikan. Pada tahun-tahun akhir perang, Belanda berhasil menangkap Tumenggung Aria Pati dan Kiai Demang Lehman serta membubuh Tumenggung Macan Negara, Tumenggung Naro, Panglima Bukhari dan Rasyid. Sedangkan menantu Pangeran Antasari, yaitu Pangeran Perbatasari tertangkap saat bertempur di Kalimantan Timur pada tahun 1866 lalu ia diasingkan ke Tondano di Sulawesi Utara. Selain itu, Panglima Bakumpai juga tertangkap dan digantung pada tahun 1905 di Banjarmasin serta Gusti Muhammad Seman tewas dalam Pertempuran Baras Kuning di daerah Barito.

Penyebab Terjadinya Perang Banjar

Sebab Umum Perang Banjar

Berikut ini penyebab umum terjadinya perang banjar diantaranya yaitu:

  • Rakyat tidak senang dengan merajalelanya Belanda yang mengusahakan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan.
  • Belanda terlalu banyak ikut campur dalam urusan intern kesultanan.
  • Belanda bertujuan menguasai daerah Kalimantan Selatan karena daerah ini ditemukan pertambangan batubara.

Sebab Khusus Perang Banjar

Berikut ini sebab khusus terjadinya perang banjar diantaranya yaitu:

  • Karena Pangeran Hidayatullah yang seharusnya menjadi Sultan Banjar tidak disetujui oleh Belanda dan mengangkat Tamjidullah sebagai sultan yang sebenarnya tidak berhak menjadi sultan. Setelah Belanda mencopot Tamjidullah dari posisi sultan, Belanda membubarkan Kesultanan Banjar.
  • Faktor ekonomi. Belanda melakukan monopoli perdagangan lada, rotan, damar, serta hasil tambang seperti emas dan intan. Monopoli tersebut sangat merugikan rakyat maupun pedagang di daerah tersebut sejak abad 17. Pada abad 19 Belanda bermaksud menguasai Kalimantan Selatan untuk melaksanakan Pax Netherlandica. Terlebih di daerah tersebut ditemukan tambang batu bara di Pangaronan dan Kalangan.
  • Faktor politik. Belanda terlalu ikut campur dengan urusan tahta kerajaan yang menimbulkan berbagai ketidak senangan. Pada saat menentukan pengganti Sultan Adam maka yang diangkat Pangeran Tamjidillah yang disenangi Belanda. Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang lebih berhak atas tahta hanya dijadikan Mangkubumi karena tidak menyukai Belanda.

Baca Juga : Organisasi Bentukan Jepang Di Indonesia

Strategi Perang Banjar

Pangeran Antasari dan Pengeran Hidayatullah menggunakan strategi perang gerilya dengan membuat kerajaan baru di pedalaman dan membangun benteng pertahanan di hutan-hutan. Semanat perlawanan dan persatuan dari rakyat Banjar dan dayak diikat dengan relasi kekeluargaan dan kekerabatan melalui ikatan pernikahan. Kemudian, ikatan tersebut menghasilkan status pegustian dan temenggung yang menjadi sarana pemersatu dan solidaritas Banjar-Dayak dalam menghadapi Belanda.

Selain itu, Pangeran Antasari juga menjalin kerjasam dengan Kutai Kartanegara melalui kerabatnya di Tenggarong. Pangeran Antasari menyurati para pangeran dari Kutai seperti Pangeran Nata Kusuma, Pangeran Anom, dan Kerta yang merupakan mata rantai penyelundupan senjata api dari Kutai ke Tanah Dusun (Banjar).

Akan tetapi, saat Perang Banjar dilanjutkan oleh keturunan Pangeran Antasari, Sultan Kutai yaitu Aji Muhammad Sulaiman tidak merespon positif permintaan bantuan dari Pangeran Perbatasari bahkan Pangeran Perbatasari diserahkan kepada Belanda pada 1885.

Jalannya Perang Banjar

Pada 28 April 1859, orang-orang Muning yang dipimpin oleh Panembahan Aling dan puteranya, Sultan Kuning menyerbu kawasan tambang batu bara di Pengaron. Walaupun gagal menduduki benteng di Pengaron tetapi para pejuang Muning berhasil membakar kawasan tambang batu bara dan pemukiman orang-orang Belanda di sekitar Pengaron. Banyak orang-orang Belanda yang terbunuh oleh gerakan orang-orang Muning tersebut.

Selain itu pasukan Muning juga melakukan penyerangan ke perkebunan milik gubernemen di Gunung Jabok, Kalangan, dan Bangkal. Maka terjadilah Perang Banjar. Akibat peristiwa tersebut, keadaan pemerintahan Kesultanan Banjar semakin kacau.

Sultan Tamjidillah yang memang tidak disenangi oleh rakyat juga tidak bisa berbuat banyak. Belanda yang menilai Tamjidillah tidak mampu memerintah diminta untuk turun tahta. Akhirnya secara resmi pada 25 Juni 1859 Tamjidillah mengundurkan diri dan mengembalikan legalia Banjar kepada Belanda dan ia diasingkan ke Bogor. Sejak saat itu Kesultanan Banjar berada di bawah kendali Belanda. Sebenarnya Belanda berusaha membujuk Pangeran Hidayatullah untuk bergabung dengan Belanda dan akan dijadikan Sultan Banjar. Tapi Pangeran Hidayatullah tidak mau karena ia menilai itu hanya tipu muslihat Belanda.

Pangeran Hidayatullah memilih bersama rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sedangkan, pasukan Antasari sudah bergerak menyerbu pos-pos Belanda di Martapura. Perlawanan Antasari dengan cepat mendapat dukungan dari para ulama dan punggawa kerajaan yang sudah muak dengan kelicikan dan kekejaman Belanda.

Pada Agustus 1859, Antasari bersama pasukan Haji Buyasin, Kiai Langlang, Kiai Demang Lehman berhasil menyerang benteng Belanda di Tabanio. Kemudian pasukan Surapati berhasil menenggelamkan kapal , Onrust milik Belanda dan merampas senjata yang ada di kapal tersebut di Lontotuor, Sungai Barito Hulu. Dengan demikian, Perang Banjar semakin meluas.

Baca Juga : Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia

Memasuki bulan Agustus-September tahun 1859 pertempuran rakyat Banjar terjadi di tiga lokasi, yaitu di sekitar Banua Lima, sekitar Martapura dan Tanah Laut, serta sepanjang Sungai Barito. Pertempuran di sekitar Banua Lima dipimpinan oleh Tumenggung Jalil. Pertempuran di sekitar Martapura dan Tanah Laut dipimpin oleh Demang Lehman. Sedangkan, pertempuran di sepanjang Sungai Barito dipimpin oleh Pangeran Antasari.

Kiai Demang Lehman yang berusaha mempertahankan benteng Tabanio diserang tentara Belanda. Pertempuran tersebut banyak memakan korban termasuk sembilan orang serdadu Belanda. Kemudian Belanda menambah jumlah pasukannya. Benteng Tabanio berhasil dikepung oleh Belanda tapi Demang Lehman dan pasukannya dapat meloloskan diri.

Kemudian Demang Lehman memusatkan kekuatannya di benteng pertahanan di Gunung Lawak, Tanah Laut. Tapi benteng ini juga diserbu tentara Belanda. Setelah bertahan mati-matian, akhirnya Demang Lehman meninggalkan benteng tersebut karena sudah banyak pengikutnya yang menjadi korban. Kekalahan Demang Lehman di benteng Gunung Lawak tidak memupuskan semangat juang melawan Belanda karena mereka yakin bahwa perang yang mereka lakukan merupakan perang sabil.

Pada bulan September, Demang Lehman dan para pemimpin lain seperti Tumenggung Jalil dan Pangeran Muhammad Aminullah meninggalkan medan pertempuran di Tanah Laut menuju Kandangan untuk mengadakan perundingan dengan tokoh pejuang yang lain. Pertemuan di Kandangan menghasilkan kesepakatan yang intinya para pemimpin pejuang Perang Banjar menolak tawaran berunding dengan Belanda, dengan merumuskan beberapa siasat perlawanan seperti:

  • Pemusatan kekuatan perlawanan di daerah Amuntai.
  • Membuat dan memperkuat pertahanan di Tanah Laut, Martapura, Rantau dan Kandangan.
  • Pangeran Antasari memperkuat pertahanan di dusun Atas dan mengusahakan tambahan senjata.

Dalam pertemuan tersebut, semua yang hadir mengangkat sumpah untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi Banjar tanpa kompromi “Haram Manyarah Waja sampai Kaputing”. Para pejuang tidak akan menyerah hingga titik darah yang penghabisan. Setelah pertemuan, perlawanan terus berkobar di berbagai tempat.

Untuk menghadapi berbagai serangan, Belanda terus memperkuat pasukan dan membangun benteng-benteng pertahanan seperti di Tapin, memperkuat Benteng Munggu Thayor, serta Benteng Amawang di Kandangan. Demang Lehman berusaha menyerang Benteng Amawang tapi gagal. Kemudian, Demang Lehman dan pasukannya mundur menuju daerah Barabai untuk memperkuat pertahanan pasukan Pangeran Hidayatullah.

Pangeran Hidayatullah meninggalkan Martapura dan berkumpul dengan seluruh anggota keluarga, yang diikuti pasukannya ia berangkat ke Amuntai. Walaupun tidak dengan perangkat kebesaran, oleh para ulama dan semua pengikutnya, Hidayatullah diangkat sebagai sultan. Kemudian, Sultan Hidayatullah menyatakan perang jihad fi sabilillah terhadap orang-orang Belanda. Dalam gerakannya menuju Amuntai pasukannya melakukan serangan ke pos-pos Belanda.

Gerakan perlawanan Pangeran Hidayatullah kemudian dipusatkan di Barabai. Kemusian pasukan Demang Lehman datang untuk memperkuat pasukan Hidayatullah. Menghadapi pasukan gabungan tersebut Belanda di bawah G.M. Verspyck mengerahkan semua kekuatan pasukan yang ada. Pasukan infanteri dari Batalion VII, IX, XIII semua dikerahkan, ditambah 100 orang petugas pembawa perlengkapan perang dan makanan.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Selain itu, mengerahkan kapal-kapal perang dari Suriname, Bone, dan kapal-kapal kecil juga dikerahkan. Dengan seruan “Allahu Akbar” pasukan Hidayatullah dan Demang Lehman menyerbu menghadapi kekuatan tentara Belanda. Mereka dengan penuh keberanian menghadapi musuh karena yakin mati dalam perang ini adalah syahid.

Namun karena kekuatan tidak seimbang, pasukan Belanda lebih unggul dari jumlah pasukan maupun senjata, maka Hidayatullah dan Demang Lehman menarik mundur pasukannya. Selanjutnya, mereka membangun pertahanan di Gunung Madang. Semua kekuatan Belanda dikerahkan untuk segera menangkap Pangeran Hidayatullah.

Akhirnya, pertahanan di Gunung Madang jebol. Pangeran Hidayatullah dengan sisa pasukannya kemudian berjuang berpindah-pindah, bergerilya dari tempat satu ke tempat yang lain, dari hutan satu ke hutan yang lain. Akan tetapi, Belanda terus memburu dan mempersempit ruang gerak pasukan Hidayatullah.

Akhirnya pada 28 Februari 1862, Hidayatullah berhasil ditangkap bersama anggota keluarga yang ikut bergerilya lalu diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Maka berakhir perlawanan Pangeran Hidayatullah.

Sedangkan Pangeran Antasari terus melanjutkan perlawanan. Oleh para pengikutnya, Antasari diangkat sebagai pejuang dan pemimpin tertinggi agama Islam dengan gelar Panembahan Amiruddin Kalifatullah Mukminin.

Akhir Perang Banjar

Kekuatan pasukan banjar yang semakin lama semakin lemah dan juga persenjataan yang kurang seimbang juga banyaknya pemimpin yang gugur seperti Tumenggung Jalil yang gugur saat mempertahankan Benteng Tundakan tahun 1861. Pada tahun 1862, Pangeran Hidayat diasingkan ke cianjur juga Pangeran Antasari wafat karena sakit. Selain itu, Sultan Kuning anak Datu Aling tertangkap pada tahu 1864.

Perlawanan yang masih bertahan ada di daerah Tabalong yang dipimpin oleh Penghulu Rasyid dan Haji Bador, mereka membuat kubu-kubu pertahanan di Sungai Hanyar dan Pasar Arba. Belanda menganggap Penghulu Rasyid cukup membahayakan, maka mereka membuat pengumuman, siapa yang bisa membawa kepala Penghulu Rasyid dihadiahi uang sebanyak f.1.000. Akhirnya, pada tahun 1865 Penghulu Rasyid tewas karena penghianatan yang dilakukan seorang kawan.

Setelah Penghulu Rasyid wafat, perang di wilayah Banjar dan hulu sungai tidak ada lagi, yang masih berlangsung secara sporadic di wilayah Barito di pimpin oleh Haji Bitahir, Panglima Wangkang, Pangeran Mohammad Seman, Pangeran Perbatasari, Tumenggung Gamar, dan lainnya.

Setelah Pangeran Mohammad Seman anak Pangeran Antasari tewas tertembak marsose Belanda pada tahun 1905, perlawanan-perlawanan kecil yang dilakukan rakyat banjar tersebut dianggap berakhir oleh Belanda.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Malaka

Tokoh Perang Banjar

Tokoh Pihak Kesultanan Banjar, diantaranya yaitu:

  1. Pangeran Hidayatullah
  2. Pangeran Antasari
  3. Aling
  4. Tumenggung Antaludin (Pemimpin benteng Gunung Madang)
  5. Tumenggung Surapati
  6. Demang Lehman
  7. Panglima Bukhari
  8. Tumenggung Jalil-pemimpin benteng Tundakan
  9. Panembahan Muhammad Said
  10. Panglima Batur
  11. Panglima Umbung
  12. Panglima Wangkang
  13. Penghulu Muda
  14. Penghulu Rasyid
  15. Penghulu Suhasin
  16. Raden Djaija (Kepala Pulau Petak Hilir)
  17. Tagab Obang
  18. Pambakal Sulil (Pemimpin perjuangan di sungai Kapuas Murung)
  19. Muhammad Seman.
  20. Kiai Suta Kara (Pemimpin benteng Martagiri-Tapin)
  21. Pangeran Tjitra Kasoema (Pemimpin benteng Gunung Jabuk)
  22. Kiai Raksapati
  23. Toemenggoong Aria Pattie (Kepala Dusun Hilir)
  24. Ratu Zaleha
  25. Wulan Jihad-pejuang wanita Dayak Kenyah
  26. Tumenggung Gamar
  27. Pangeran Miradipa-gugur dalam pertempuran Paringin
  28. Pangeran Syarif Umar (ipar P. Hidayatullah) yang gugur dalam pertempuran Paringin
  29. Tumenggung Naro
  30. Haji Buyasin
  31. Kiai Tjakrawati
  32. Galuh Sarinah-isteri Kiai Tjakrawati
  33. Aji Pangeran Kusumanegara-Raja Cantung-Buntar Laut
  34. Panglima Unggis, dimakamkan di desa Ketapang, Gunung Timang, Barito Utara.
  35. Panglima Sogo, yang turut menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda 26 Desember 1859 di Lewu Lutung Tuwur, makamnya di desa Malawaken, Teweh Tengah, Barito Utara.
  36. Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew), panglima wanita yang pernah menyerang Fort Muara Teweh tahun 1864-1865, makamnya di desa Malawaken (Teluk Mayang), Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.
  37. Dammung Sayu, kepala suku Dayak Maanyan Kampung Magantis
  38. Patih Gangsarmas, kepala suku Dayak Taboyan
  39. Gusti Buasan, pejuang dari desa Marindi, Haruai, Tabalong
  40. Gusti Berakit (Berkek), cucu Pangeran Antasari
  41. Panglima Amir, pejuang suku Aceh
  42. Panglima Usup, pejuang suku Aceh
  43. Pangeran Perbatasari
  44. Pangeran Aminullah, menantu Pangeran Prabu Anom
  45. Antung Durrahman
  46. Gusti Atjil
  47. Kiai Sari Kodaton, Kepala Distrik Margasari
  48. Aluh Idut
  49. Habib Ali, pemimpin Arab Kalimantan Barat
  50. Panglima Mat Narung dari Putussibau
  51. Panglima Wangkang
  52. Tamanggung Awan
  53. Tamanggung Balere
  54. Tamanggung Ecut
  55. Raden Sahidar
  56. Raden Timbang
  57. Panglima Kumis Baja
  58. H.M.Amin
  59. Panglima Bitik Bahe (dari Lanjas),
  60. Damang Luntung (dari Pendreh),
  61. Damang Laju (dari Jingah)
  62. Tamanggung Danom
  63. Tamanggung Angis (dari Montallat)
  64. Raden Joyo
  65. Panglima Inti
  66. Upeng
  67. Tamanggung Jadam (dari Sungai Teweh)
  68. Panglima Bahi
  69. Tamanggung Lawas (dari Sungai Lahei)

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Tokoh Pihak Belanda, diantaranya:

  1. Augustus Johannes Andresen
  2. George Frederik Willem Borel
  3. Karel Cornelis Bunnik
  4. F.P. Cavaljé
  5. P.P.H. van Ham
  6. Karel van der Heijden
  7. Christiaan Antoon Jeekel
  8. H.L. Kilian
  9. Franz Lodewijk Ferdinand Karel von Pestel
  10. Evert Willem Pfeiffer
  11. Joost Hendrik Romswinckel
  12. Charles de Roy van Zuydewijn
  13. C.E. Uhlenbeck
  14. Gustave Verspijck
  15. Johannes Jacobus Wilhelmus Eliza Verstege
  16. Jacobus Agustinus Vetter
  17. Stephanus Johannes Boers
  18. Pangeran Djaija Pamenang-Regent Martapura
  19. Radhen Adipati Danoe Redjo-Regent Amuntai
  20. Toemenggoeng Nicodemus Djaija Negara-Kepala distrik Pulau Petak
  21. Pangeran Sjarif Hamid-Raja Batulicin
  22. Soeto Ono-Kepala distrik Sihoeng
  23. Toemenggoeng Djaja Kartie-Kepala distrik Patai
  24. Haji Kuwit

Demikian artikel pembahasan tentang sejarah perang banjar. Semoga bermanfaat